SEJARAH DAKWAH DI INDONESIA
Dakwah Islam sebelum masa penjajahan
(masa para wali)
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam
diberbagai penjuru di Nusantara. Yang merupakan moment kebangkitan kekuatan
politik umat khususnya didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur
turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan
Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka
keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau
Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula
kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal. Pada abad
13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang
menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan
proses Islamisasinya melalui beberapa saluran antara lain:
a) Perdagangan
b) Pernikahan
c) Pendidikan
(pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar
budaya indonesia, dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam
yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam
penyebaran Islam. Ini membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat
selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
d) Seni dan
budaya
Saat itu media tontonan yang sangat terkenal pada masyarakat
jawa kkhususnya yaitu wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai media
dakwah dengan sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam.
Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkannya egaliterialisme
yaitu kesamaan derajat manusia di hadapan Allah dengan dimasukannya tokoh-tokoh
punakawam seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Para Wali juga menggubah
lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami, ini berarti nasyid sudah
ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga
diberikan nilai-nilai Islam.
e) Tasawwuf
Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang
menjadi jaringan penyebaran agama Islam.
- Dakwah pada masa penjajahan (pesantren dan organisasi Islam)
Dalam literature yang beredar dan menjadi arus besar
sejarah, masuknya Islam ke Indonesia selalu diidentikkan dengan penyebaran
agama oleh Arab, Persia, ataupun Gujarat. Namun ada penemuan lain yang
menyatakan bahwa Islam Nusantara tidak hanya berasal dari wilayah India dan
Timur Tengah, akan tetapi juga dari Cina, tepatnya Yunan.
Penyebaran bermula dalam pergaulan dagang antara muslim
Yunan dengan penduduk Nusantara. Pada kesempatan itu terjadilah asimilasi
budaya lokal dan agama Islam yang salah satunya berasal dari Daratan Cina.
Diawali saat armada Tiongkok Dinasti Ming yang pertama kali masuk Nusantara
melalui Palembang tahun 1407. Saat itu mereka mengusir perompak dari Hokkian
Cina yang telah lama bersarang disana. Kemudian Laksamana Cheng Ho membentuk
Kerajaan Islam di Palembang. Meskipun merupakan kerajaan yang lebh dahulu
didirika, namun dalam perjalanan sejarah justru Kerajaan Demak yang lebih
dikenal dalam masyarakat.
Dengan banyaknya penduduk pribumi yang masuk Islam,
terbentuklah pemerintahan-pemerintahan Islam. Hubungan dengan kaum muslimin
dari pusat dunia Islam-pun menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke
Nusantara juga semakin erat. Yang terbesar dalah dari Hadramaut, Yaman.
Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan
dengan rakusnya menguasai daerah di nusantara, hubungan dengan pusat dunia
Islam seakan terputus. Terutama di abad ke-17 dan 18 Masehi. Hal ini disebabkan
karena kaum muslimin nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan
dan dampak dari peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis yang isinya
melarang untuk berhubungan dagang dengan dunia luar.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan
semangat jihad kaum muslimin nusantara, namun disisi lain membuat pendalaman
akidah Islam tidak merata. Sebagian besar kaum muslimin mengalami pencampuran
akidah dengan tradisi pra-Islam.
Pada masa ini semangat dakwah banyak diwarnai dengan jihad
melawan kaum kolonial, namun terdapat dua pola dakwah yang dikembangkan pada
masa ini, yaitu:
>Masa Penjajahan (Pesantren dan Organisasi Islam)
a. Pesatren
Pesantren berubah fungsi dari lembaga pendidikan menjadi a centre of anti-Ducth (pusat pembangkit
anti belanda). Setiap perlawanan bersenjata terhadap penjajah Belanda tidak
terlepas dari dari hubungan pesantren. Dalam abad ke-19 terdapat empat perang
besar dari hasil perjuangan para santri, diantaranya :
Perang
Cirebon (1802-1806)
Perang
Diponegoro (1825-1830)
Perang
Padri (1821-1838)
Perang di
Aceh(1873-1908)
b. Organisasi
Islam
Para ulama menggerakkan masyarakat melalui pendidikan dan
mendorong untuk memulihkan kembali ekonomi dan perdagangan. Kebangkitan Islam
semakin berkembang dengan membentuk organisasi sosial keagamaan.
Organisasi Islam pertama adalah SDI (Serikat Dagang Islam)
di tahun 1905 dan merupakan cikal bakal pertumbuhan nasionalis yang dipelopori
kaum pelajar. Pada perkembangannya SDI berubah menjadi SI (Sarikat Islam) dan
menjadi pola dakwah baru yang berupa pembentukan organisasi Islam secara modern
dalam sejarah bangsa Indonesia. Dari sinilah mulai muncul organisasi-organisasi
Islam lain di Indonesia seperti, muhammadiyah (1905), persatuan Islam (Persis)
di tahun 1920, Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1926, dan Persatuan Tasbiyah
Indonesia tahun 1930. Pada masa pendudukan Jepang lahir Masyumi yang merupakan
organisasi Islam bercorak politik yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan
umat Islam. Dalam Masyumi terkumpul berbagai kalangan dari elemen organisasi
islam.
>Masa Kemerdekaan
Menilik perjalanan sejarah, dakwah Islam pada masa
penjajahan ini berpusat dan berkonsentrasi dalam upaya jihad dan mengusir
penjajah. Umat Islam memiliki peran yang besar dalam proses kemerdekaan, bahkan
setelah merdekapun jihad masi menjadi PR yang wajib diselesaikan meski dalam
bentuk yang berbeda. Sudah bukan lagi jihad peperangan dengan bentuk fisik
namun jihad dalam bentuk perang ideology.
- Dakwah pada masa Orde Baru dan Reformasi
Pada fase ini proses dakwah (Islamisasi) di
Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan
pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif yang akan
membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya. Sebenarnya
kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan
berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara
struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat
membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur
masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat.
Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang
merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota
muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan
merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian Allah
mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk muslim terbesar di dunia,
tetapi masih menjadi tanda Tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan
kuantitasnya.
B. Kesimpulan
Pada
hakikatnya dakwah Islam merupakan aktualisasi imani (teologis) yang
dimanifestasikan dalam suatu system kegiatan manusia beriman dalam bidang
kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara cara
berfikir, kepekaan dalam merasakan lingkungan, cara bersikap, dan bertindak
manusia, baik secara individual maupun sosial dalam rangka mengusahakan
terwujudnya ajaran Islam dalam semua
segi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu, dan sejarah islam di indonesia
diawali dari sebelum masa penjajaha atau masa para wali sampai dengan masa sekarangatumasa
reformasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ilaihi,
Wahyu; Harjani Hefni. 2007. Pengantar Sejarah Dakwah. Jakarta;
Kencana, 2007
http://www.dakwatuna.com/2007/12/347/sejarah-islam-di-indonesia/



0 komentar:
Posting Komentar