Urgensi Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
dalam Dakwah
Al-Qur’an merupakan kitab dakwah yang mencakup seluruh kajian dakwah, baik
perintah, unsur-unsur dakwah seperti dai, maddah, mad’u, metodologi serta
teknis penyampaiannya. Sebagai kitab dakwah al-Qur’an al-Karim merupakan
rujukan pertama dan utama dalam mengkaji tentang dakwah Islamiyyah.
Menurut Ahmad Faiz sebagai Kitab Dakwah al-Qur’an mengandung beberapa
pengertian yang menunjukan kekuatannya sebagai sumber dakwah.
1.
al-Qur’an adalah kitab
dakwah, undang-undangnya yang bersifat umum. Sebagai kitab dakwah, al-Qur’an
harus menjadi rujukan yang pertama dan utama para da’i sebelum mereka
menggunakan rujukan dari sumber-sumber lain. Mereka harus menggali dan belajar
dari al-Qur’an, bagaimana mereka harus berdakwah, menyeru dan manusia ke jalan
Allah SWT. Mereka juga harus bertanya kepada al-Qur’an bagaimana mereka harus
menyadari hati yang lalai dan menghidupkan semangat dan jiwa yang mati. Mereka
harus pula mempelajari metode al-Qur’an dalam memulai berdakwah ke arah mana dakwah
harus menuju.
2.
al-Qur’an merupakan
undang-undang ( dustur ) yang bersifat konfrehensif, mencakup undang-undang
pendidikan dan kehidupan, dan secara khusus al-Qur’an memuat praktek-praktek dakwah
dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Sejarah dakwah yang termaktub
didalamnya merupakan ibrah utama bagi umat Islam khususnya para da’i.
3.
al-Qur’an telah
menempuh berbagai jalan dan mengikuti berbagai pola dalam menghadapi
keragu-raguan manusia terhadap kebenaran Islam. Berbagai pola pendekatan ini,
merupakan bekal dakwah dan bekal da’i dalam berdakwah. Ini artinya, da’i harus
selalu kembali kepada al-Qur’an sepanjang masa.
4.
sepeninggal Nabi
Muhammad SAW, al-Qur’an harus dijadikan sebagai pemimpin dan imam sepanjang
sejarah untuk membimbing umat Islam dari generasi ke generasi, serta
mendidik dan memepersiapkan mereka agar dapat sekali lagi berperan
dalam kepemimpinan dunia dalam kehidupan umat manusia.
Dakwah merupakan sesuatu kewajiban dalam ajaran Islam yang dibebankan Agama
kepada umatnya baik yang sudah menganutnya maupun belum. Dalam masalah ini
semua ulama sepakat. Sejauh ini perbedaan yang ada hanya berkisar pada apakah
kewajiban ini bersifat individual, berlaku bagi setiap muslim ( wajib ain )
ataukah kewajiban bersifat kolektif, berlaku untuk kelompok tertentu sebagai
representasi kelompok lain sehingga ketika tugas dakwah telah dilaksanakan
suatu kelompok gugur kewajiban kelompok lain dalam komunitas yang sama ( wajib
kifayah ). Sebagian ulama berpendapat bahwa dakwah merupakan kewajiban
individu. Sekalipun demikian dakwah tetap memerlukan kelompok khusus yang ahli
dan memiliki kemampuan manajerial dalam melaksanakan tugas dakwah. Sebagian
lain berpendapat bahwa dakwah merupakan kewajiban bagi kelompok tertentu saja
dan bukan kewajiban bagi setiap individu.
Kedua pendapat tersebut masing masing didasari pada dalil-dalil yang
akurat. Pendapat pertama yang menyatakan dakwah merupakan kewajiban individu (
wajib ain ), setiap muslim yang sudah akil baligh, terkena kewajiban dakwah (
taklif dakwah ). Argumen pendapat ini diantaranya merujuk pada al-Qur’an
Surat Yusuf ayat 108 yang artinya : Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku,
aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah
yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik".(
Q.S.Yusuf :108 )
Pengikut seorang Nabi adalah orang orang beriman. Untuk itu setiap
orang beriman pengikut Nabi wajib berdakwah sebagaimana Nabi telah melakukan dakwah.
Argumen kedua merujuk pada Q.S Ali Imran ayat 104 dan 110 yang artinya : “Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung.”( Q.S : 104 )yang artinya : “kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.( Q.S Ali Imran :
110 ).
Menurut pendapat ini kata ( min ) dalam al-Qur’an Surat Ali Imran
ayat 104 ini lilbayan ( menjelaskan ), bukan liltaba’id ( sebagian ). Dengan
demikian menurut pendapat ini, ayat tersebut bermakan :” Jadilah kamu semua
umat yang selalu menyeru kebajikan”. Namun meskipun dakwah merupakan kewajiban
setiap muslim, dakwah tetap membutuhkan adanya kelompok khusus yang profesional
yang menguasai manajerial dakwah yang dalam teknis pelaksanaanya perla
dilaksanakan secara kolektif ( bi shurat jamaiyyat ). Dalam hal ini, mereka
mengemukakan beberapa argumen antara lain :
a. Tugas dan tanatangan dakwah semakin berat.
b. Dalam sirah Nabawiyah Rasulullah SAW memerintahkan sahabat agar hijrah ke
Dar-al-Islam, agar mereka dapat menyatukan mereka.
c. Di dalam al-Qur’an terdapat perintah agar kaum muslim saling
tolong menolong dalam kebajikan(Q.S.3 :2)
Ayat ini seperti yang dikemukakan Abd al-Karim Zaidan dalam Ushul al-Dakwah
merupakan dalil yang menunjukan perlunya dakwah secara kolektif ( al-tajammu’
wa al-dakwa tal-jamaiyyat ) bahkan menjadi dalil yang mewajibkan dakwah
kolektif bilamana tujuan dakwah tidak tercapai tanpa itu.
Berbeda dengan pendapat pertama, pendapat kedua berpendapat bahwa dakwah
bukan kewajiban individu, melainkan kewajiban sekelompok tertentu saja, yaitu
para ulama atau oang orang yang mempunyai kemampuan untuk itu atau biasa
disebut pemuka-pemuka agama ( rijal al-din ). Ulama atau pemuka agama adalah
sebagian dari umat Islam dan bukan keseluruhan umat Islam. Alasannya, pertama,
berdakwah harus memiliki persyaratan ilmu. Seseorang tidak mungkin mengajak
orang lain dengan benar apabila tidak memiliki pengetahuan atau dengan bahasa
lain seseorang tidak mungkin mengajak orang lain berbuat baik kalau ia sendiri
tidak mengerti kebaikan itu sendiri. Oleh sebab itu dakwah kewajiban para ulama
dan kelompok khusus bukan kewajiban orang awam. Pendapat ini menyandarkan
argumennya pada Q.S al-Taubat : 122 ).Dalam ayat tersebut jelas mewajibkan
dakwah hanya kepada sekelompok orang saja, bukan kepada semua orang. Menurut
pendapat kedua, ayat ini berarti tidak seharusnya orang-orang mukmin pergi
semua berperang, tetapi seharusnya ada sekelompok orang mukmin yang tetap tinggal
memperdalam ilmu agama dan melakukan dakwah di tengah-tengah masyarakat.
Argumen selanjutnya Q.S. Ali Imron ayat 104 difahami bahwa kata ( min )
Dalam ayat ini dimaknai sebagian ( liltabaidh ). Alasanya bahwa di dalam masyarakat pasti ada orang yang tidak mampu berdakwah, melakukan amar makruf nahi munkar. Dari dua pendapat ini pendapat pertama lebih kuat dan lebih shahih karena pendapat pertama sudah mencakup pendapat kedua, tetapi tidak sebaliknya( Ismail Ilyas,2006:201).
Dalam ayat ini dimaknai sebagian ( liltabaidh ). Alasanya bahwa di dalam masyarakat pasti ada orang yang tidak mampu berdakwah, melakukan amar makruf nahi munkar. Dari dua pendapat ini pendapat pertama lebih kuat dan lebih shahih karena pendapat pertama sudah mencakup pendapat kedua, tetapi tidak sebaliknya( Ismail Ilyas,2006:201).
Dakwah adalah seruan atau ajakan kepada kesadaran atau mengubah situasi ke
situasi yang lebih baik dan sempurna menurut ajaran islam baik terhadap pribadi
maupun terhadap masyarakat.(AhmadSubandi,2004: iii)Perwujudan dakwah bukan
hanya sekedar usaha peningkatan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan
pandangan hidaup saja, tetapi menuju sasran yang lebih luas. Dakwah pada saat
ini harus aktual, faktual dan kontekstual sehingga dakwah dapat menjadi
solusi bagi setiap problematika kehidupan manusia.( Awaluddin Pimay,2007:xi) Aktual
berarti memecahkan masalah kekinian yang sedang hangat di masyarakat. Faktual
dalam arti konkrit dan nyata serta kontekstual dalam arti relevan dan
menyangkut problematika yang yang sedang dihadapi masyarakat. Seiring pesatnya
teknologi komunikasi dan informatika,pemanfaatkan teknologi berbasis ICT(
information and communication technology ) atau TIK ( teknologi informasi dan
komunikasi ) sebagai media dakwah merupakan suatu keniscayaan.
Landasan Teologis dan Teoritis Dakwah Multimedia
Teknologi informasi dan komunikasi adalah produk media komunikasi yang
dikembangkan dalam upaya memfungsikan komunikasi itu untuk menginformasikan (to
Inform), untuk mendidik (to educate), untuk menghibur (to entertain) dan untuk
mempengaruhi (to influence). Pada gilirannya, derivasi multimediayang berbasis
ICT (information and communication technology) telah mengubah dunia menjadi
kecil dan seakan tanpa ruang dan waktu. Betapa segalanya dimudahkan dengan
berbagai fasilitas komunikasi kontemporer. Tentu jika tidak ada sesuatu hal
yang mengubah segalanya, dimasa depan perkembangan media komunikasi yang
berbasis ICT atau TIK ( teknologi informasi dan komunikasi ) akan lebih pesat
dan lebih maju menjawab setiap persoalan dalam komunikasi. Sebagai contoh,
media informasi yang pada masa konvensional paling trendi disebarluaskan
melalui media cetak seperti surat kabar atau buletin, kini sudah berkembang
pesat melalui multimedia yang berbasis TIK seperti televisi berbayar atau
bahkan melalui situs-situs internet yang bisa diakses kapan saja dan dimana
saja jika mau.
Dalam konteks dakwah, multi media yang digunakan pun tidak sekadar memfungsikan
sebahagian fungsi komunikasi seperti menginformasikan, mendidik dan
mempengaruhi saja, tetapi juga mengoptimalisasikan upaya mengajak atau menyeru
(to invite/ to propagate). Sehingga multi media atau dalam konsepsi ilmu dakwah
disebut wasilah, mengadopsi segala produk media komunikasi terutama multimedia
berbasis teknologi informasi dan komunuikasi sebagai media dakwah.
Namun ada hal yang mendasar yang perlu dicatat bahwa segala bentuk
multimedia tersebut tidak mungkin berkembang dan dikembangkan tanpa ada sesuatu
yang menjadi modal untuk berkomunikasi itu secara fundamental. Tentu sesuatu
itu dalam pandangan Islam tidak terjadi menjadi ada dengan sendirinya tetapi di
ada kan oleh yang maha mengadakan yaitu Alloh SWT. Firman Alloh dalam Q.S.
Al-furqon ayat 48 yang terjemahnya :” Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai)
pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan Rahmat-Nya (hujan) dan kami
turunkan dari langit air yang amat bersih”.
Ayat-ayat Quraniyah dalam rangkaian surat Al-Furqon Asy-Syuaro dan An-naml adalah ayat-ayat dakwah para nabi yand didalamnya terdapat pula hal-hal yang berkenaan dengan media dakwah. Ini menjadi landasan teologis yang sangat ilmiah untuk mengclaim, menggugat atau meluruskan bahwa seharusnya media komunikasi yang berkembang saat ini terjadi karena keberadaan angin atau sebutlah gelombang elektromagnetik yang dapat nenghantarkan resonansi suara dari suatu tempat ketempat yang lain. Al-qur’an menyatakan bahwa para nabi bertugas menyampaikan berita gembira dan peringatan kepada manusia. Untuk menyebarluaskan pesan ilahiyah itu, Alloh menciptakan angin sebaga fasilitas atau media dakwah sebagaimana Nabi Suaiman yang dapat menangkap resonansi berbagai suara binatang dan ketundukan angin kepadanya dengan ijin Alloh. Di dalam Q.S. An-naml ayat 15 sampai dengan 44, Alloh membelajarkan umat Islam dengan kisah sulaiman yang mandakwahkan ajaran tauhid mulai dengan menggunakan media lisan tulisan (surat) sampai media semacam 3G (dimasa sekarang) atau ICT dan bahkan belum sepadan melampaui itu. Lebih gamblang dalam ayat ke 40 Alloh menginformasikan yang terjemahnya :” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-kitab, ’Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip’ maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, ia pun berkata: ’ Ini termasuk karunia tuhanku untuk mencoba aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhan-Ku maha kaya lagi maha Mulia”.
Ayat-ayat Quraniyah dalam rangkaian surat Al-Furqon Asy-Syuaro dan An-naml adalah ayat-ayat dakwah para nabi yand didalamnya terdapat pula hal-hal yang berkenaan dengan media dakwah. Ini menjadi landasan teologis yang sangat ilmiah untuk mengclaim, menggugat atau meluruskan bahwa seharusnya media komunikasi yang berkembang saat ini terjadi karena keberadaan angin atau sebutlah gelombang elektromagnetik yang dapat nenghantarkan resonansi suara dari suatu tempat ketempat yang lain. Al-qur’an menyatakan bahwa para nabi bertugas menyampaikan berita gembira dan peringatan kepada manusia. Untuk menyebarluaskan pesan ilahiyah itu, Alloh menciptakan angin sebaga fasilitas atau media dakwah sebagaimana Nabi Suaiman yang dapat menangkap resonansi berbagai suara binatang dan ketundukan angin kepadanya dengan ijin Alloh. Di dalam Q.S. An-naml ayat 15 sampai dengan 44, Alloh membelajarkan umat Islam dengan kisah sulaiman yang mandakwahkan ajaran tauhid mulai dengan menggunakan media lisan tulisan (surat) sampai media semacam 3G (dimasa sekarang) atau ICT dan bahkan belum sepadan melampaui itu. Lebih gamblang dalam ayat ke 40 Alloh menginformasikan yang terjemahnya :” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-kitab, ’Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip’ maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, ia pun berkata: ’ Ini termasuk karunia tuhanku untuk mencoba aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhan-Ku maha kaya lagi maha Mulia”.
Pada masa nabi Sulaiman, Fenomena cyber space atau dunia mayantara pernah
muncul dan bahkan keunggulannya dimiliki oleh manusia ketimbang Ifrit dengan
dapat memindahkan benda materiil dari satu tempat ketempat yang lain.
Saat ini kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet pun seolah-olah menjadi benak alias otak luar seluruh manusia dimuka bumi. Tak heran jika sejumlah cendekiawan pelopor internetbmengira bahwa sarana komunikasi dan informasi yang tercipta di dalamnya akan mempercepat proses serebralisasi bumi. Sebagai akibatnya, semua manusia akan terdorong menjadi sebuah kesatuan oraganis besar. Kesatuan umat manusia inilah yang diharapkan menjadi terminal spiritualitas paling akhir seperti yang diramalkan di tahun 30-an oleh paleontolog, yang juga seorang pastur Ordo jesuit prancis , bernama Teilhard de chardin sebagai titik omega, yaitu titik akhir proses evolusi semesta. Tentu apabila ditarik pada wilayah materialis empiris fenomena itu itu adalah proses evolutif, tetapi dalampendekatan spiritualitas hal itu adalah suasana revolusi sebagaimana para Sufi yang mukhasafah bersatu dengan jagat raya.
Saat ini kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet pun seolah-olah menjadi benak alias otak luar seluruh manusia dimuka bumi. Tak heran jika sejumlah cendekiawan pelopor internetbmengira bahwa sarana komunikasi dan informasi yang tercipta di dalamnya akan mempercepat proses serebralisasi bumi. Sebagai akibatnya, semua manusia akan terdorong menjadi sebuah kesatuan oraganis besar. Kesatuan umat manusia inilah yang diharapkan menjadi terminal spiritualitas paling akhir seperti yang diramalkan di tahun 30-an oleh paleontolog, yang juga seorang pastur Ordo jesuit prancis , bernama Teilhard de chardin sebagai titik omega, yaitu titik akhir proses evolusi semesta. Tentu apabila ditarik pada wilayah materialis empiris fenomena itu itu adalah proses evolutif, tetapi dalampendekatan spiritualitas hal itu adalah suasana revolusi sebagaimana para Sufi yang mukhasafah bersatu dengan jagat raya.
Dengan demikian, angin yang dibicarakan Al-Qur’an sebagian adalah gelombang
elektromagnetik yang diperuntukan menjadi media dakwah dan komunikasi para nabi
untuk menyebarkan ajaran islam. Fondasi teologis ini diadopsi oleh orang-orang
non muslim yang menemukan dan mengembangkan multimedia berbasis teknonologi
informasi dan komunikasi dengan mengekplorasi manfaat gelombang elektromagnetik
untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tentunya, tanpa harus mengklaim dan menemukan kembali, realitas sudah
membuktikan bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi itu sejalan atau
ruhnya sudah diinformasikan Alloh di dalam Al-Qur’an sehingga kenyataan itu tak
terbantahkan.Bagi seorang da’i penting untuk bersikap bijak dan bajik dalam
menyikapi berbagai fenomena sebagai sebuah kesatuan sistem (tauhid) dalam
perbedaan agama, ideologi, ras, dan lain-lain. Firman Alloh SWT :”Dan
hamba-hamba Tuhan yang maha penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan
diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Q.S. Al-Furqon: 63).
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam bentuk pemanpaatan
partikel bermuatan listrik (elektron) kini banyak berbentuk produk yang beragam
bentuk sesuai dengan fungsinya masing-masing seperti telephon kabel dan
selular, radio, televisi , internet dan lain-lain. Biolog Gregory Stock,
berpendapat bahwa masyarakat teknologi kontemporer sedang mengalami
metamorfosis menjadi suatu yang disebut MetaMan yaitu suatu superorganisme yang
kemampuannya melebihi kemampuan manusia secara individu.Akan tetapi, menurut
Heylighen, MetaMan itu tidak akan lahir begitu saja.Itulah sebabnya dia,
bersama rekannya John Bollen, Bereksperimen dengan program-program internet
yang dapat menjadikan World Wide Web lebih cerdas dengan membuat link-link nya
lebih adaktip seperti halnya urat-urat penghubung antar sel saraf dalam otak
manusia.
Dalam konteks dakwah Islam tentunya segala bentuk kemajuan teknologi informasi dan informasi itu adalah bagian dari karunai Alloh yang wajib disyukuri dengan cara menguasai dan menggunakannya untuk kemajuan dakwah menciptakan khairu ummah. Bukan malah sebaliknya, multimedia komunikasi dan informasi itu malah dikuasai dan digunakan oleh manusia yang berorientasi pada kesenangan hidup dan kesenangan hawa nafsu dengan dorongan materialisme, kapitalisme, hedonisme dan seterusnya yang sejalan dengan dakwah fi syaithon. Sebagai contoh yang paling dekat diungkap oleh Jalaludin rahmat yang menyebutbtelevisi diabad modern ini sebagai the first god, media yang banyak dipertuhankan (thogut) oleh manusia. Prilaku sosial masyarakat sangat terpengaruh oleh pola sikap ”nabi-nabinya” (kaum seleb) yang tampil ditelevisi. Tidak heran jika prilaku sosial masyarakat kontemporer yang posisinya hanya sebagai penikmat/konsumen tidak jelas identitasnya terombang-ambing oleh gelomban pasang informasi yang menerjang.
Maka pantas jika Hafi Anshari, mensarankan adanya alat preventif dan alat represif dalam berdakwah sebagai bentuk kode etik atau akhlak dakwah yang secara spesipik kaitannya dengan penggunaan media dakwah. Tentunya hal ini dilakukan untuk menjaga keotentikan ajaran islam ketika dipergaulan dialam maya yang bebas tanpa tembok-tembok penghalang secara fisik dan psikis.
Dalam konteks dakwah Islam tentunya segala bentuk kemajuan teknologi informasi dan informasi itu adalah bagian dari karunai Alloh yang wajib disyukuri dengan cara menguasai dan menggunakannya untuk kemajuan dakwah menciptakan khairu ummah. Bukan malah sebaliknya, multimedia komunikasi dan informasi itu malah dikuasai dan digunakan oleh manusia yang berorientasi pada kesenangan hidup dan kesenangan hawa nafsu dengan dorongan materialisme, kapitalisme, hedonisme dan seterusnya yang sejalan dengan dakwah fi syaithon. Sebagai contoh yang paling dekat diungkap oleh Jalaludin rahmat yang menyebutbtelevisi diabad modern ini sebagai the first god, media yang banyak dipertuhankan (thogut) oleh manusia. Prilaku sosial masyarakat sangat terpengaruh oleh pola sikap ”nabi-nabinya” (kaum seleb) yang tampil ditelevisi. Tidak heran jika prilaku sosial masyarakat kontemporer yang posisinya hanya sebagai penikmat/konsumen tidak jelas identitasnya terombang-ambing oleh gelomban pasang informasi yang menerjang.
Maka pantas jika Hafi Anshari, mensarankan adanya alat preventif dan alat represif dalam berdakwah sebagai bentuk kode etik atau akhlak dakwah yang secara spesipik kaitannya dengan penggunaan media dakwah. Tentunya hal ini dilakukan untuk menjaga keotentikan ajaran islam ketika dipergaulan dialam maya yang bebas tanpa tembok-tembok penghalang secara fisik dan psikis.
Oleh karena itu, dakwah melalui multimedia berbasis teknollogi informasi
dan komunikasi menjadi kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar lagi. Sudah
saatnya para pegiat dakwah mengejar ketertinggalannya dalam konteks pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi untuk berdakwah dengan standar minimal
menjadi pengguna (user).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah diuraiakan maka dapat diambi simpulan sebagai
berikut :
1. Tujuan dakwah yang sangat mulia harus dicapai dengan cara-cara yang mulia
sesuai dengan tuntunan perkembangan zaman.
2. Kewajiban dakwah merupakan tugas bagi setiapmuslim baik individu maupun
kelompok namun dakwah harus dimanaj secara profesional
3. Pemanfaatan multimedia yang berbasis TIK dalam dakwah merupakan suatu keniscayaan
yang memiliki landasan yang kuat baik secara teologis maupun teoritis.
B. Saran
Demikian pembahasan dari makalah
kami.Kami berharap semoga pembahasan dalam makalah ini dapat membantu dan
bermanfaat bagi pembaca.Dan kami pun berharap pula kritik dan saran dari
pembaca untuk kesempurnaan dalam tugas kami selanjutnya. Sekian dan terima
kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim Departemen Agama
, 2000
Ahmad Subandi, IImu Dakwah : Pengantar kearah Metodologi, ( Bandung
: Syahida ,2004 ).
Asep Muhyidin dan Agus
Ahmad Syafei, Metode Pengembangan Dakwah, ( Bandung : Pustaka setia,2002
).
Ali Mustafa Yaqub, Sejarah
dan Metode Dakwah Nabi ( Jakarta : Pustaka Firdaus,2000 ).
Awaludin Pimay, Metodologi
Dakwah, ( Semarang : RaSAIL,2007 ).
B.J Boland, The
Strunggle of Islam in Modern Indonesia, ( The Hague Martinus
Nijhoff, 1971 ).
Ismail Ilyas, Paradigma
Dakwah Sayyid Quthub, ( Jakarta : Penamadani,2006 ).
Ibnu Sa’ad, al-Thabaqot
al-Kubra,( Beirut : Dar al-Fikr, 1980 ).
Ismail Razi al-Faruqi
dan Lois Lamya al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam, ( New York :
Macmillan Publishing Company, 1986 ) .
Muhammad Ajjaj
al-Khatib, Ushul al-Hadits ( Beirut : Dar al-Fikr, 1981).
Muhammad said Ramadhan
al-Buthi, Fiqh Sirah ( Beirut : Dar al-Fikr,1980 ).
Thomas.W. Arnold, The
Preaching of Islam, A History of Propagation of The Moslem Faith, (
Delhi : Low Price Publication, 1995 ).



0 komentar:
Posting Komentar