ALI BIN ABI THALIB
DI SUSUN
O
L
E
H
RAMADHANBAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara resmi istilah Khulafaur Rasyidin merujuk pada empat orang khalifah
pertama Islam, namun sebagian ulama menganggap bahwa Khulafaur Rasyidin atau khalifah
yang memperoleh petunjuk tidak terbatas pada keempat orang tersebut di
atas, tetapi dapat mencakup pula para khalifah setelahnya yang kehidupannya
benar-benar sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah Nabi. Salah seorang yang oleh kesepakatan banyak ulama dapat diberi gelar khulafaur
rasyidin adalah Umar bin Abdul-Aziz, khalifahBani Umayyah ke-8
Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: الخلفاء الراشدون)
atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orangkhalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinanNabi Muhammad setelah ia wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran
yang dibawanya di saat masa kerasulan Muhammad. Keempat khalifah tersebut
dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama
umat Islam.
Sistem pemilihan terhadap masing-masing khalifah tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi karenapara sahabat menganggap tidak ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana suksesi kepemimpinan Islam akan berlangsung. Namun
penganut paham Syi’ah meyakini bahwaMuhammad dengan jelas menunjuk Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4 bahwa Muhammad menginginkan keturunannyalah yang akan
meneruskan kepemimpinannya atas umat Islam, mereka merujuk kepada salah
satu Hadits Ghadir Khum.
Setelah Usman wafat, masyarakat beramai-ramai
membaiat Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Ali memerintah hanya enam tahun.
Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa
sedikit pun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Setelah
menduduki jabatan khalifah, Ali menon-aktifkan para gubernur yang diangkat oleh
Usman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran
mereka. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Usman kepada penduduk dengan
menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem
distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam sebagaimana pernah
diterapkan Umar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan Uraian dari Latar Belakang di atas,
kami merumuskan Masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Biografi Khalifah Ali bin Abi Thalib ?
2. Bagaimanakah Kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib ?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan Isi Rumusan Masalah diatas, maka
Tujuan penulisan Makalah kami adalah :
1. Untuk mengetahui Biografi Khalifah Ali bin Abi Thalib.
2. Untuk mengetahui Kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Khalifah Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib
lahir (Mekah, 603-Kufah, 17 Ramadhan 40/24 Januari 661). Khalifah keempat
terakhir dari al-Khulafa ar-Rasyidin (empat khalifah besar); orang pertama yang
masuk Islam dari kalangan anak-anak, sepupu Nabi saw. yang kemudian menjadi
menantunya. Ayahnya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasim bin Abdul Manaf,
adalah kakak kandung ayah Nabi saw. Abdullah bin Abdul Mutholib. Ibunya bernama
Fatimah binti As’at bin Hasyim bin Abdul Manaf. Sewaktu lahir dia di beri nama
Haidarah oleh ibunya. Namun kemudian di ganti ayahnya dengan Ali.
Ketika berusia enam
tahun, ia diambil sebagai anak asuh oleh Nabi saw. sebagaimana Nabi saw. pernah
diasuh oleh ayahnya. Pada waktu Muhammad saw. diangkat menjadi Rasul, Ali baru
menginjak usia 8 tahun. Ia adalah orang kedua yang menerima dakwah Islam,
setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi saw. Sejak itu ia selalu bersama
Rasulullah saw, taat kepadanya dan banyak menyaksikan Rasulullah saw, menerima
wahyu. Ia anak asuh Rasulullah saw, ia banyak menimba ilmu mengenai rahasia
ketuhanan maupun segala persoalan keagamaan secara teoritis dan praktis.
Sewaktu
Rasulullah hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar al-Siddiq, Ali diperintahkan
untuk tetap tinggal di rumah Rasulullah saw. dan tidur di tempat tidurnya. ini
dimaksudkan untuk memperdaya kaum Quraisy, supaya mereka menyangka bahwa Nabi
masih berada di rumahnya. Ketika itu kaum Quraisy merencanakan untuk membunuh
Nabi saw. Ali juga ditugaskan untuk mengembalikan sejumblah barang titipan
kepada pemilik masing-masing. Ali mampu melaksanakan tugas yang penuh resiko
itu dengan sebaik-baiknya tanpa sedikitpun merasa takut. Melalui cara itu
Rasulullah saw. dan Abu Bakar selamat meninggalkan kota Mekah tanpa diketahui
oleh kaum Quraisy.
Setelah mendengar
Rasulullah saw. dan Abu Bakar telah sampai ke Madinah, Ali menyusul ke sana. Di
Madinah ia dikawinkan dengan Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah saw. yang
ketika itu tahun ke 2 H beliau berusia 15 tahun.
Ali menikah dengan
sembilan wanita dan mempunyai 19 orang putra-putri. Fatimah adalah istri
pertama. Dari fatimah, Ali mendapat dua putra dan dua putri. Yaitu Hasan,
Husein, Zainab dan Ummu Kalsum yang kemudian diperistri oleh Umar bin Khattab.
Setelah Fatimah wafat Ali menikah lagi berturut-turut dengan:
1. Ummu
Bamin bin Hisyam dari bani Amir bin Kilab, yang melahirkan empat putra yaitu
Abbas, Ja’far, Abdullah dan Usman.
2. Laila
binti Mas’ud at-Tamimyah yang melahirkan dua putra yaitu Abdullah dan Abu
Bakar.
3. Asma
binti Umar al-Quimiah, yang melahirkan dua putra yaitu Yahya dan Muhammad.
4. as-Sahbah
binti Rabiah dari bani Jasyim bin Bakar, seorang janda dari Bani Taglab, yang
melahirkan dua anak, Umar dan Ruqayyah.
5. Umamah
binti Abi Ass bin ar-Arrab, putri Zainab binti Rasulullah saw. yang melahirkan
satu anak yaitu Muhammad.
6. Khanlah
binti Ja’far al-Hanafiah, yang melahirkan seorang putra, yaitu Muhammad
(al-Hanafiah).
7. Ummu
Sa’id binti Urwah bin Mas’ud, yang melahirkan dua anak, yaitu Ummu al-Husain
dan Ramlah.
8. Mahyah
binti Imri’ al-Qais al-Kabiah, yang melahirkan seorang anak bernama Jariah.
Ali terkenal sebagai
panglima perang yang gagah perkasa. Keberaniannya menggetarkan hati
lawan-lawannya. Ia mempunyai sebilah pedang (warisan dari Nabi saw.) bernama
“Zulfikar”. Ia turut serta pada hampir semua peperangan yang terjadi di masa
Nabi saw. dan selalu menjadi andalan pada barisan depan.
Ia juga dikenal cerdas
dan menguasai banyak masalah keagamaan secara mendalam sebagaimana tergambar
dari sabda Nabi saw. “aku adalah kotanya ilmu pengetahuan sedang
Ali sebagai pintu gerbangnya”. Karena itu, nasehat dan fatwanya selalu di
dengar para Khalifah sebelumnya. Ia selalu di tempatkan pada jabatan kadi atau
Mufti.[1]
Ali diberi juga
julukan (gelar) Abutturab (arti letterliknya “pak tanah”) dijuluki
demikian, karena pada suatu saat ia tidur di Masjid, pakainya terlepas dari
badan, hingga ia tidur di atas tanah tanpa alas. Kemudian ia dibangunkan oleh
Nabi, sambil berkata, “bangunlah, hai Abutturab” dan gelar
itulah tampaknya amat di sukainya.
Dialah seorang anak
kecil yang mula pertama membenarkan tindak tanduk Nabi saw. dan masuk Islam
sedang umurnya baru menginjak delapan tahun. Berarti ia memiliki jiwa yang
tidak dikotori oleh keadaan-keadaan jahiliah dan satu kalipun tidak pernah ikut
menyembah berhala, karena itu kepadanya disebutkan: “Karramallahu Wajahahu”
yang artinya: semoga Allah memuliakan Wajahnya, sementara kepada para sahabat
lainnya hanya disebutkan “Radliallahu ‘Anhu” yang artinya, semoga Allah
Meridhoinya.
Ali terkenal sebagai seorang
yang tidak mencintai dunia meskipun bila ia mau, peluang untuk itu sangatlah
mudah. Ia ahli dalam berpidato, memiliki sastra dan juga bahasa yang indah
dengan lidah yang fasih. Ia juga hafal Al-Qur’an serta mengumpulkannya dan
membetulkannya di hadapan Nabi.
Ali adalah orang
pertama dari golongan Bani Hashim yang menjadi khalifah, seorang yang mula-mula
meletakkan dasar ilmu Nahwu atau Gramatika Bahasa Arab. Dia juga yang diserahi
untuk melakukan perang tanding pada permulaan dan pendahuluan perang Sabil yang
pertama, yaitu perang Badar. Pantaslah kalau ia termasuk kelompok sepuluh yang
disebutkan oleh Nabi yang dijamin masuk surga.
Ali bin Abi Thalib
juga seorang yang mendapat kehormatan dan kepercayaan Nabi saw. dengan
mengutusnya ke Negeri Yaman, ketika usianya masi sangat muda belia, tapi ia di
do’akan oleh Nabi : “Ya Tuhan, pimpinlah hatinya dan tetapkanlah lidahnya”
sehingga seluruh sahabat mengakui bahwa Ali-lah orang yang dipandang lebih
mengetahui tentang Hukum dan Peradilan.
Ali juga pernah mendapat
kehormatan untuk menjabat sebagai wakil Nabi yaitu menjadi Wali Kota Madinah
ketika Nabi pergi bersama Jaisu Usrah diperang Tabuk. Ketika Ali berkata kepada
Nabi, “Ya Rasulullah, mengapa tuan tinggalkan saya bersama orang-orang
perempuan dan anak-anak”? lalu dijawab oleh Nabi,
اِنَّ النَّبِىَّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعَلٍّى : أَنْتَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ
هَارُوْنَ مِنْ مُّوْسَى اِلَّااَّنَهُ لَانَبِيَّ بَعْدِى
Terjemahan
:
“Bahwasanya Nabi saw
berkata kepada Ali: “Enkau bagiku seperti Nabi Harun menempati posisi Nabi
Musa”, kecuali sesungguhnya tidak ada lagi Nabi sesudahku.” (H.R. Ahmad dan
Bazzar).[2]
Jadi ia
mengikuti semua perang sabil yang di lakukan oleh Nabi kecuali perang tabuk ia
bertugas di Madinah.
Sebagai
seorang sahabat Nabi, ia juga memiliki kemauan dan kelebihan. Ia adalah seorang
yang pemurah, dermawan rendah hati, ramah tamah, jujur, amanah (dapat
dipercaya) qana’ah (mencakup dengan apa yang ada dengan tidak
berlebih-lebihan), adil disiplin dan banyak lagi.[3]
B. Kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib
1. Wafatnya Khalifah Usman bin Affan
Pada masa kepeminpinan Kholifah Usman bin Affan , terjadi fitnah yang besar
di kalangan kaum muslimin di beberapa daerah, terutama di Basrah, Mesir
dan Kufah. Fitnah-fitnah tersebut sengaja disebarkan oleh kaum munafik yang
dipimpin Abdullah bin Saba. Fitnah tersebut berhasil menghasut
beberapa pihak untuk membrontak dan menuntut mundurnya Khalifah Usman bin
Affan.
Dalam masa krisis tersebut, beliau tetap tidak
mau menggunakan pengawalan khusus yang ditawarkan para sahabatnya. Suatu
ketika, para pembrontak berhasil menyerbu rumah Kholifah Usman bin Affan dan
membunuhnya.
Saat kejadian itu, Kholifah Usman bin
Affan sedang menjalankan puasa sunah dan membaca Al-Qur'an. Malam harinya
sebelum terbunuh beliau mimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya,
Rasulullah saw. meminta untuk berpuasa dan besuknya akan berbuka dengan
Rasulullah saw. Mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan.
Sepeninggal Kholifah Usman bin Affan dalam kondisi yang masih kacau, kaum
muslimin meminta Ali bin Abi Thalib untuk menjadi Khalifah, akan tetapi ada
bebarapa tokoh yang menolak usulan tersebut diantaranya Muawiyah bin Abi
Sufyan. Mereka menolak Ali bin Abi Thalib pada umumnya adalah para gubernur atau
pejabat yang berasal dari keluarga besar Kholifah Usman bin Affan . Mereka
menuntut pembunuh Kholifah Usman bin Affan ditangkap terlebih dahulu. Setelah
itu barulah masalah pergantian pemimpin dibicarakan. Sebaliknya, pihak Ali bin
Abi Tahlib berpendapat bahwa masalah kepemimpinan sebaiknya diselesaikan
terlebih dahulu. Setelah itu, barulah pembunuh Kholifah Usman bin Affan
dicari bersama-sama. Perbedaan pendapat tersebut awal pecahnya persatuan kaum
muslimin saat itu. Akhirnya Ali bin Abi Thalib tetap diangkat sebagai
kholifah meskipun ada beberapa kalangan yang tidak tersedia mengakuinya.[4]
2. Pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah
Setelah Khalifah Usman ra. syahid, Ali
ra. diangkat menjadi khalifah ke-4. Awalnya beliau menolak, namun akhirnya
beliau menerimanya. Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari
Muhammad bin Al-Hanafiyah berkata: .....Sementara orang banyak datang di
belakangnya dan menggedor pintu dan segera memasuki rumah itu. Kata mereka:
"Beliau (Usman ra.) telah terbunuh, sementara rakyat harus punya khalifah,
dan kami tidak mengetahui orang yang paling berhak untuk itu kecuali anda (Ali
ra.)". Ali ra. berkata kepada mereka: "Janganlah kalian mengharapkan
saya, karena saya lebih senang menjadi wazir (pembantu) bagi kalian daripada
menjadi Amir". Mereka menjawab: "Tidak, demi Allah, kami tidak
mengetahui ada orang yang lebih berhak menjadi khalifah daripada engkau".
‘Ali ra. menjawab: "Jika kalian tak menerima pendapatku dan tetap ingin
membaiatku, maka baiat tersebut hendaknya tidak bersifat rahasia, tetapi aku
akan pergi ke masjid, maka siapa yang bermaksud membaiatku maka berbaiatlah
kepadaku". Pergilah ‘Ali ra. ke masjid dan orang-orang berbaiat kepadanya.
Dalam Tarikh Al-Ya’qubi dikatakan: ‘Ali bin Abi Thalib ra. menggantikan
Usman sebagai khalifah dan Ali bin Abi Thalib ra. dibaiat oleh
Thalhah ra, Zubair ra, Kaum Muhajirin dan Anshar.Sedangkan orang yang pertama
kali membaiat dan menjabat tangannya adalah Thalhah bin Ubaidillah ra.
3. Strategi Kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib
Diantara strategi Ali Bin Abi Thalib dalam
menegakkan kekhalifaan adalah memeranig Khawarij. Untuk kepentingan agama dan
negara, Ali Bin Abi Thali juga menggukan potensi dalam usaha pengembangan Islam, baik perkembangan dalam bidang Sosial,
politik, Militer, dan Ilmu Pengetahuan. Berikut ini akan diuraikan tentang
strategi tersebut;
a.
Khalifah Ali Bin Abi
Thalib Memerangi Khawarij
Semula orang-orang yang
kelak dikenal dengan khawarij ini turut membaiat Ali ra., dan Ali ra. tidak
menindak mereka secara langsung mengingat kondisi umat belumlah kembali stabil,
di samping para pembuat makar yang berjumlah ribuan itu pun telah berbaur di
Kota Madinah, hingga dapat mempengaruhi hamba sahaya dan orang-orang Badui.
Jika Ali ra. bersegera mengambil tindakan, maka bisa dipastikan akan terjadi
pertumpahan darah dan fitnah yang tidak kunjung habisnya. Karenanya Ali ra,
memilih untuk menunggu waktu yang tepat, setelah kondisi keamanan kembali
stabil, untuk menyelesaikan persoalan yang ada dengan menegakkan qishash. Kaum
khawarij sendiri pada akhirnya menyempal dari Pasukan Ali ra. setelah beliau
melakukan tahkim dengan Muawiyah ra. setelah beberapa saat terjadi perbedaan
ijtihad di antara mereka berdua ra. (Ali ra. dan Muawiyah ra.). Orang-orang
khawarij menolak tahkim seraya mengumandangkan slogan:
“Tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Tidak boleh
menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia. Demi Allah! Allah telah
menghukum penzalim dengan jalan diperangi sehingga kembali ke jalan Allah.””Ungkapan mereka: ‘Tiada ada hukum kecuali hukum Allah, dikomentari
oleh Ali: “Ungkapan benar, tetapi disalahpahami. Pada akhirnya ‘Ali ra.
memerangi khawarij tsb., dan berhasil menghancurkan mereka di Nahrawan, di mana
hampir seluruh dari orang Khawarij tsb berhasil dibunuh, sedangkan yang
terbunuh di pihak Ali ra. hanya 9 orang saja.[5]
b.
Upaya Pengembangan dalam Bidang
Pemerintahan
Situasi ummat Islam
pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib sudah
sangat jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Ummat Islam pada masa
pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab masih bersatu, mereka
memiliki banyak tugas yang harus diselesaikannya, seperti tugas melakukan
perluasan wilayah Islam dan sebagainya.
Selain itu, kehidupan
masyarakat Islam masih sangat sederhana karena belum banyak terpengaruh oleh
kemewahan duniawi, kekayaan dan kedudukan.[6]
Namun pada masa
pemerintahan Khalifah Usman bin Affan keadaan mulai berubah. Perjuangan pun sudah mulai terpengaruh
oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Oleh karena itu, beban yang harus dipikul
oleh penguasa berikutnya semakin berat. Usaha-usaha Khalifah Alibin Abi Thalib dalam
mengatasi persoalan tersebut tetap dilakukannya, meskipun ia mendapat tantangan
yang sangat luar biasa. Semua itu bertujuan agar masyarakat merasa aman,
tentram dan sejahtera. Usaha-usaha yang dilakukannya diantaranya :
c.
Perkembangan di Bidang
Politik Militer
Khalifah Ali bin Abi Thalib
memiliki kelebihan, seperti kecerdasan, ketelitian, ketegasan keberanian dan
sebagainya. Karenanya ketika ia terpilih sebagai Khalifah, jiwa dan semangat
itu masih membara didalam dirinya. Banyak usaha yang dilakukan, termasuk
bagaimana merumuskan sebuah kebijakan untuk kepentingan negara, agama dan umat
Islam kemasa depan yang lebih cemerlang. Selain itu, dia juga terkenal sebagai
pahlawan yang gagah berani, penasihat yang bijaksana, penasihat hukum yang
ulung, dan pemegang teguh tradisi, seorang sahabat sejati, dan seorang kawan
yang dermawan.
Khalifah Ali bin Abi
Thalib sejak masa mudanya amat terkenal dengan sikap dan sifat keberaniannya,
baik dalam keadaan damai mupun saat kritis. Beliau amat tahu medan dan tipu
daya musuh, ini kelihatan sekali pada saat perang Shiffin. Dalam perang itu
Khalifah Ali bin Abi Thalib mengetahui benar bahwa siasat yang dibuat Muawiyah
bin Abi Sufyan hanya untuk memperdaya kekuatan Khalifah Ali bin Abi Thalib
menolak ajakan damai, karena dia sangat mengetahui bahwa Muawiyah adalah orang
yang sangat licik. Namun para sahabatnya mendesak agar menerima tawaran
perdamaian itu. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilah
"Tahkim" di Daumatul Jandal pada tahun 34 Hijriyah. Peristiwa itu
sebenarnya merupakan bukti kelemahan dalam system pertahanan pada masa
pemerintahan Khalifah Alibin Abi Thalib. Usaha Khalifah terus mendapat tantangan dan selalu
dikalahkan oleh kelompok orang yang tidak senang terhadap kepemimpinannya.
Karena peristiwa
"Tahkim" itu, timbullah tiga golongan dikalangan umat Islam,
yaituKelompok Khawarij, Kelompok Murjiah dan Kelompok Syi'ah
(pengikut Ali). Ketiga kelompok itu yang pada masa berikutnya merupakan
golongan yang sangat kuat dan yang mewarnai perkembangan pemikiran dalam Islam.
d.
Perkembangan di Bidang
Ilmu Bahasa
Pada masa Khalifah
Ali bin Abi Thalib, wilayah kekuasaan Islam telah sampai Sungai Efrat,
Tigris, dan Amu Dariyah, bahkan sampai ke Indus. Akibat luasnya wilayah
kekuasaan Islam dan banyaknya masyarakat yang bukan berasal dari kalangan Arab,
banyak ditemukan kesalahan dalam membaca teks Al-Qur'an atau Hadits sebagai
sumber hukum Islam.
Khalifah Ali bin Abi
Thalib menganggap bahwa kesalahan itu sangat fatal, terutama bagi orang-orang
yang akan mempelajari ajaran islam dari sumber aslinya yang berbahasa Arab.
Kemudian Khalifah Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Al-Aswad
Al-Duali untuk mengarang pokok-pokok Ilmu Nahwu ( Qawaid Nahwiyah ).
Dengan adanya Ilmu
Nahwu yang dijadikan sebagai pedoman dasar dalam mempelajari bahasa Al-Qur'an,
maka orang-orang yang bukan berasal dari masyarakat Arab akan mendaptkan
kemudahan dalam membaca dan memahami sumber ajaran Islam.
e.
Perkembangan di Bidang
Pembangunan
Pada masa Khalifah
Ali bin Abi Thalib, terdapat usaha positif yang dilaksanakannya, terutama
dalam masalah tata kota. Salah satu kota yang dibangun adalah kota Kuffah.
Semula pembangunan kota
Kuffah ini bertujuao politis untuk dijadikan sebagai basis pertahanan kekuatan
Khalifah Ali bin Abi Thalib dari berbagai rongrongan para pembangkang, misalnya
Muawiyah bin Abi Sufyan. Akan tetapi, lama kelamaan kota tersebut berkembang
menjadi sebuah kota yang sangat ramai dikunjungi bahkan kemudian menjadi pusat
pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan, seperti perkembangan Ilmu Nahwu,
Tafsir, Hadits dan sebagainya.[7]
Pembangunan kota Kuffah
ini dimaksudkan sebagai salah satu cara Khalifah Ali bin Abi Thalib mengontrol
kekuatan Muawiyah yang sejak semula tidak mau tunduk terhadap perintahnya.
Karena letaknya yang tidak begitu jauh dengan pusat pergerakan Muawiya binAbi Sufyan, maka boleh
dibilang kota ini sangat strategis bagi pertahanan Khalifah.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Demikialah makalah ini dibuat, sebagai cacatan
penutup. Pemakalah dapat menarik suatu kesimpulan, antara lain:
1. Ali ra. bekerja keras pada masa kekhilafahannya guna mengembalikan
stabilitas dalam tubuh umat Islam.
2. Diantara strategi Khalifah Ali bin Abu Tholib, yang berhasil dikembangkan
adalah:
a. Perkembangan di bidang pembangunan
b. Perkembangan di bidang bahasa
c. Perkembangan di bidang militer
d. Perkembangan di bidang pemerintahan
e. Memerangi khawarij
B.
Saran
Dalam makalah ini tentunya
masih banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat
diperlukan untuk penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ensiklopedi
Islam, Cet. III, Jakarta: Ichtiar Baru
Van Hoeve, 1997.
http://majlas.yn.lt/ Perkembangan Islam Masa Khalifah Ali bin Abu Tholib.
http://fileburhan.wordpress.com/2012/07/05/makalah-kepemimpinan-ali-bin-abu- thalib-by-burhannudin-fekon-uniska-bjm/
Munawir Imam, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan
Pemikiran Islam dari Masa ke Masa Cet. I; Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985.
Pulungan Suyuthi, Fiqih Siyasah, Ajaran, Sejarah,
dan Pemikiran, Cet. V; Jakarta: Rajawali Pers 2002.
[2]
Suyuthi Pulungan, Fiqih
Siyasah, Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran (Cet. V; Jakarta: Rajawali Pers
2002), h. 204
[3] Imam Munawir, Mengenal
Pribadi 30 Pendekar dan Pemikiran Islam dari Masa ke Masa (Cet. I;
Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985). h. 97-100
[4] http://komed45.blogspot.com/2012/10/4-masa-kholifah-ali-bin-abi-thalib.html
dikutip pada tanggal 16 Januari 2016
[5] http://alkamilok.wordpress.com/2008/09/16/ringkasan-keutamaan-ali-bin-abi-thalib/
dikutip pada tanggal 16 Januari 2016
[6] http://majlas.yn.lt/
Perkembangan Islam Masa Khalifah Ali bin Abu Tholib. Dikutip pada tanggal 16 Januari 2016
[7] http://majlas.yn.lt Pekembangan
Islam Masa Khalifah Ali bin Abu Tholib. Dikutip pada tanggal 16 Januari 2016


