BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Berbicara
tentang
dakwah, khususnya bagi umat Islam menjadi suatu tugas mulia, sebab
dakwah merupakan tugas warisan para Nabi dan Rasul Allah Swt. menegaskan bahwa
tidak ada perkataan yang lebih baik dari pada menyeru ke jalan Allah Swt.
Allah berfirman :
“Siapakah
yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang berdakwah kepada Allah,
mengerjakan amal shalih dan berkata : sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”
(QS. Fushillat : 33).
Kebutuhan manusia terhadap agama (dakwah) pada umumnya,
kepada Islam pada khususnya, bukanlah merupakan kebutuhan sekunder atau bahkan
sampingan, namun merupakan kebutuhan dasar atau primer yang berhubungan erat
dengan subtansi kehidupan, misteri dan wujud dan hati nurani manusia yang
paling dalam. Itulah menjadi penyebab dakwah menjadi tugas utama
para Nabi dan Rasul Allah SWT. Untuk lebih jelasnya, maka penulis akan membahas
mengenai kebutuhan masyarakat akan dakwah.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah yang dimaksud dengan dakwah?
2.
Bagaimanakah kebutuhan manusia terhadap dakwah?
3.
Bagaimanakah akibat ketika manusia tidak
didakwahi dan tidak melaksanakan dakwah?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Dakwah
1.
Pengertian dakwah secara etimologis
Kata dakwah adalah derivasi dari bahasa Arab “Da’wah”. Kata
kerjanya da’aa yang berarti memanggil, mengundang atau mengajak. Ism fa’ilnya
(red. pelaku) adalah da’I yang berarti pendakwah. Di dalam kamus al-Munjid fi
al-Lughoh wa al-a’lam disebutkan makna da’I sebagai orang yang memangggil
(mengajak) manusia kepada agamanya atau mazhabnya . Merujuk pada Ahmad Warson
Munawir dalam Ilmu Dakwah karangan Moh. Ali Aziz (2009:6), kata da’a mempunyai
beberapa makna antara lain memanggil, mengundang, minta tolong, meminta,
memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan,
mendoakan, menangisi dan meratapi. Dalam Al-Quran kata dakwah ditemukan tidak
kurang dari 198 kali dengan makna yang berbeda-beda setidaknya ada 10 macam
yaitu; mengajak dan menyeru; berdo’a; mendakwa (menuduh); mengadu; memanggil;
meminta; mengundang; malaikat Israfil; gelar; dan anak angkat.
2.
Menurut
para ahli
Syekh Ali Mahfudz : dakwah adalah
upaya membangkitkan kesadaran nmanusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh
berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar supaya mereka mendapat kebahagiaan
di dunia dan akhirat. Definisi tersebut menekankan dakwah pada proses pemberian
motivasi untuk melakukan pesan dakwah (ajaran Islam).
Ibnu Taimiyah Definisi dakwah yang
dipaparkannya lebih menekankan pada urgensi pengamalan aspek pesan dakwah
sebagai tatanann hidup hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi. Pesan dakwah
yang terkandung dalam persfektif ini adalah mengimani Allah; mengimani segala
ajaran yang dibawa oleh utusan Allah; pengikraran syahadatain; menegakkan
shalat; menunaikan zakat; saum di bulan Ramadhan; menunaikan ibadah haji;
mengimani para malaikat, kitab-kitab, dan para Rasul-Nya,hari kebangkitan,
serta qada dan qadar-Nya; menyerukan agar hamba Allah hanya beribadah kepada
Allah.
B.
Kebutuhan Manusia Terhadap Dakwah
1.
Teori Kebutuhan Manusia
Secara fitrah manusia menginginkan
“kesatuan dirinya” dengan Tuhan, karena itulah pergerakan dan perjalanan hidup
manusia adalah sebuah evolusi spiritual menuju dan mendekat kepada Sang
Pencipta. Tujuan mulia itulah yang akhirnya akan mengarahkan dan mengaktualkan
potensi dan fitrah tersembunyi manusia untuk digunakan sebagai sarana untuk
mencapai “spirituality progress”.
Kebutuhan manusia terhadap dakwah
adalah salah satu dari fitrah manusia. Karena fitrah dapat dilihat sebagai
perasaan keagamaan. Ibn Manzdur dalam salmadanis (2003: 116) membagi fitrah
menjadi dua; pertama fitah natural yang merupakan bawaan sejak lahir hingga
baligh yang memungkinkan ia dapat berfikir atau bernalar, kedua fitrah yang
dapat membuat seseorang dapat dianggap sebagai seorang muslim dengan menyatakan
kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Fitrah yang kedua inilah yang disebut fitrah agama. Sebagai sesuatu yang dicari
oleh manusia. Karena disadari atau tidak disadari olem manusia, ia sangat butuh
akan kepercayaan kepada tuhan yang akan menolongnya dalam menghadapi kekurangan
atau kegelisahan dalam menjalankan kehidupan, terutama kebutuhan-kebutuhan
psikis yang terpokok. Sebagai mana ternyata dalam penganalisaan sejarah
kehidupan manusia mulai dari zaman primitif hingga saat ini, betapa butuhnya
jiwa akan kepercayaan kepada sesuatu yang berkuasa. Bagi orang-orang yang
percaya kepada tuhan, sesuatu yang berkuasa dan menentukan segala sesuatunya
adalah tuhan. Akan tetapi orang yang tidak percaya kepada tuhan maka ia juga
akan mencari sesuatu yang berkuasa diluar dirinya dimanapun berada baik diatas,
batu, pohon besar, gunung yang tinggi, di hutan lebat, dalam jiwa,
mantra-mantra dan lain-lain sebagainya. Dalam hail ini dapat dikatakan ”bahwa
agama sangat dibutuhkan manusia, karena ia membutuhkan kepercayaan kepada
tuhan, dengan kata lain agama adalah suatu kebutuhan psikis manusia yang harus
dipenuhi.
Kierkegaar dalam Hakim (2003: 35),
menggambarkan bahwa: “manusia itu selalu dalam kegelisahan (auxicity) dan
ketakutan (fear), tepat seperti yang dirasakan oleh ahli-ahli pikir saat ini.
Hanya dengan kepercayaan agamalah orang akan selamat dari gangguan kegelisahan
dan ketakutan itu.
Yusuf Qardhawy mengungkapkan bahwa
sesungguhnya kebutuhan manusia terhadap agama pada umumnya kepada Islam pada
khususnya, bukanlah merupakan kebutuhan sekunder atau bahkan sampingan, namun merupakan
kebutuhan dasar atau primer yang berhubungan erat dengan subtansi kehidupan,
misteri dan wujud dan hati nurani manusia yang paling dalam. Beberapa factor
kebutuhan manusia terhadap agama dalam kehidupan manusia adalah sebagai
berikut:
a.
Kebutuhan akal tehadap pengetahuan mengenai hakikat
eksistensi terbesar.
b.
Kebutuhan manusia terhadap kesehatan jiwa dan kekuatan
rohani.
c.
Kebutuhan masyarakat terhadap motivasi dan disiplin akhlak.
d.
Kebutuhan masyarakat kapada solidaritas dan soliditas.
Disamping hal diatas alasan yang
melatar belakangi perlunya manusia terhadap agama tersebut adalah; latar
belaktang fitrah manusia, kelemahan dan kekurangan manusia, dan tantangan
manusia. Demikianlah pentingnya agama bagi manusia sehingga diakui atau tidak
sesungguhnya manusia sangat membutuhkan agama. Abu Su’ud dalam Salmadanis
(2003: 35) mengungkapkan bahwa fitrah adalan potensi dalam menerima kebenaran.
Bila komunitas suatau masyarakat mengingkari dan tidak menjadikan sebagai
landasan moralitas lalu memilih doktrin diluar Islam, maka mereka telah sesat.
Pada hal yang sama Imam Al-Suyuthi mengungkapkan bahwa fitrah itu sendiri
adalah Islam. Islam yang dimaksudkan oleh Shahrastani adalah patuh, taat,
pembalasan, dan perhitungan atau dengan kata lain disebut juga dengan syariat.
Disamping itu Al-Hakim al- Turmizi menggaris bawahi bahwa fitrah merupakan
Ma’rifatullah atau potensi dasar untuk melakukan pengenalan dengan tuhan. Dakwah
Islam pada hakikatnya bertugas memperkenal kan manusia kepada tuhan, namun
bukan berarti tanpa pengelan tersebut manusia tidak bertuhan.
Pada sisi lain paradigma yang
dipakai oleh Abu al-Fadhl bahwa Allah menciptakan manusia didasari kepada
pengetahuan yang maha cermat tentang persoalan dasar kehidupan manusia.
Sehingga fitrah manusia berada pada jalan lurus secara linear menuju
keselamatan yang telah Allah tetapkan, karena setiap pengadaan dan penciptaan,
Allah senantiasa dalam makrifah yang tidak terbatas . Dengan demikian manusia
mustahil luput dari fitrah. Misalnya manusia memberi peringatan, menasehati,
berwasiat, membina, membimbing, memberi petunjuk, dan lain-lain yang kesemua
itu terdapat pada manusia, sekalipun betapa besar noda dan dosa yang
dilakukannya. Hanya saja terkadang fitrah itu tertutup dan adakalanya terbuka.
Nah untuk membuka fitrah yang tertutup tersebut perlu adanya petugas khusus dan
professional untuk menanganinya itulah peranan dakwah. dengan demikian fitrah
merupakan suatu kebutuhan yang diberikan tuhan sebagai cinta kasihnya kepada
hambanya. Juga dapat dipahami fitrah adalah peraturan illahi yang menuntun ke
arah keyakinan yang benar dan tingkah laku yang baik
Dalam berbagai karya ilmiah
menyatakan, fitrah merupakan bentuk dan system yang diwujudkan Allah kepada
setiap makhluk. Wujud nyata terletak pada amar ma’ruf nahi mungkar. Oleh karena
itu dimana saja manusia berada kedua aspek ini selalu mengitarinya. Posisi
sebagai agent perubahan selalu berada pada ma’ruf. Bukanlah dikatakan dakwah
jika pelaku (sabjek) dan sasaran (objek) berada dalam lembah kemungkaran atau
kemaksiatan.
Secara prinsip kebutuhan manusia
kepada dakwah melalui tiga system yang mendasar yaitu; hikmah, mau’idhah, dan
mujadalah. Al-Taba’thaba’I berpendapat bahwa apa yang dihasilkan fitrah manusia
keberadaannya akan sesuai dengan apa yang dihasilkan oleh akal dan tidak
bertentangan dengan logika ilmiah. Sehingga al-Razi mengatakan fitrah itu
adalah akal, karena akal menghasilkan suatu yang benar.
Pemahaman selanjutnya mengisyaratkan
bahwa fitrah merupakan suatu kecendrungan kepada kebaikan dan kebenaran,
sebagai suatu yang terdapat dalam kesadaran jiwa setiap individu. Manusia
pertama yang diperintahkan oleh Allah untuk turun kebumi, diberi pesan untuk
mengikuti petunjuknya, jika petunjuk tersebut sampai kepadanya maka mereka akan
bahagia, tidak merasa khawatir atau takut sedikit pun.
Petunjuk yang pertama melahirkan
kebutuhan manusia terhadap adanya informasi (Dakwah), adalah ketika Adam As.
Dalam perjalanannya di bumi menemukan keindahan, kebaikan dan kebenaran. Ketiga
hal tersebut akan melahirkan kesucian. Lalu terhadap ketiga hal tersebut ,
manusia ingin tahu dan menelusurinya, tentu ada yang lebih indah dan maha suci.
Sehingga mengantarkan manusia kepada yang maha suci. Kalau pada awalnya manusia
lahir tanpa mengetahui, namun melalui panca indra manusia berusaha mencarinya,
adakalanya bertemu adakalanya tidak bertermu yang ia cari. Sehingga sesuatu
yang dicari tidak ketemu maka timbullah kegelisahan dalam hati/jiwa manusia
sehingga semakin mendesak pula jalan untuk mencari jalan keluarya. Dengan
demikian ternyata manusia ingin tahu dan sangat butuh akan informasi. Informasi
yang tertinggi dalan ajaran islam adalah wahyu (agama), dalam upaya metransper
agama kepada manusia adalah melalui dakwah. Seperti yang telah dilakukan
Rasulullah SAW, selama 23 tahun beliau yang beliau mengalami kesengsaraan hanya
untuk menancapkan Islam dihati umat manusia kala itu. Dengan kehadiran
Rasullahlah keadaan bangsa arab ketika itu mulai tertata dari segala aspeknya.
Yang sebelumnya kedaan sorang-oranmg arab penuh dengan budaya kebrutalan,
kefasikan, keangkuhan, kedzaliman, dan kemaksiatan berubah menjadi keadaan yang
penuh persaudaraan, kesetiakawanan, keharmonisan dan penuh dengan rasa kasih
sayang sesama mereka. Hal itu semua adalah berkat dakwah, dakwah dan dakwah.
Dari penjelasan diatas jelaslah bagi kita bahwa betapa urgennya dakwah terhadap
manusia. Di masa modern sekarang agama adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa
lupakan, bahkan tidak sesaat-pun manusia mampu meninggalkan agamanya, karena
agama adalah pandangan hidup dan praktik penuntun hidup dan kehidupan, sejak
lahir sampai mati, bahkan sejak mulai tidur sampai tidur lagi agama selalu akan
memberikan bimbingan, demi menuju hidup sejahtera dunia dan akhirat. Ponsel
yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari masyarkat Indonesia bisa
menjadi alat bantu untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan melalui
fitur-fitur spiritual.
Maraknya penggunaan fitur spiritual
ini sebenarnya tak hanya merebak di Indonesia. Menurut Craig Warren Smith,
Senior Advisor University of Washington’s Human Interface Technology
Laboratory, spiritual computing telah ada di negara-negara lain, seperti
penggunaan fitur spiritual untuk umat Budha. Menurut Craig, nantinya fitur
spritual akan menjadi faktor penting dalam keagamaan.
Berdasarkan penelitian beberapa ahli
dari Georgia Institute of Technology Atlanta dan Computer Science &
Engineering, University of Washington tentang Sacred Imagery in
Techno-Spiritual Design, biasanya orang memakai fitur spiritual semacam ini
untuk mendukung aktivitas ibadah mereka. Misalnya Gospel Spectrum, sebuah
sistem visualisasi informasi yang memungkinkan penggunanya mempelajari Bible
secara visual. Belum lagi fitur spritual untuk umat Budha dan sebagainya. Salah
satu contoh fitur spiritual yang dekat dengan masyarakat Indonesia saat ini
adalah Athan Time. Aplikasi ini mengingatkan penggunanya untuk menjalankan
solat lima waktu. Ini merupakan salah satu fitur yang dibuat untuk mendukung
praktik techno-spiritual secara efektif. Selain itu, fitur ini juga berfungsi
menghubungkan orang dengan pengalaman religius mereka. Beberapa responden dari
penelitian yang dilakukan oleh Susan P. Wyche, Kelly E. Caine, Benjamin K,
Davison, Shwetak N. Patel, Michael Arteaga, dan Rebecca E. Grinter menyebutkan,
penggunaan fitur spiritual Islami, membuat mereka “melihat dan merasakan”
spiritualitas yang ada.
Menurut Abraham Maslow manusia
mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga
hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah
hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat
dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi. Kebutuhan maslow harus
memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak
terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu
dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Ada Lima kebutuhan dasar Maslow
disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu
krusial:
1)
Kebutuhan Fisiologis. Contohnya adalah: Sandang/pakaian,
pangan/makanan, papan/rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar,
buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2)
Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan. Contoh seperti: Bebas
dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror,
dan lain sebagainya.
3)
Kebutuhan Sosial. Misalnya adalah: memiliki teman, memiliki
keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4)
Kebutuhan Penghargaan. Contoh: pujian, piagam, tanda jasa,
hadiah, dan banyak lagi lainnya.
5)
Kebutuhan Aktualisasi Diri. Adalah kebutuhan dan keinginan
untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya
Menjelang akhir hayatnya, Abraham
Maslow menyadari dan menemukan adanya kebutuhan yang lebih tinggi lagi pada
sebagian manusia tertentu, yaitu yang disebut sebagai kebutuhan transcendental.
Berbeda dengan kebutuhan lainnya yang bersifat horizontal (berkaitan hubungan
antara manusia dengan manusia), maka kebutuhan transcendental lebih bersifat
vertikal (berakaitan dengan hubungan manusia dengan Sang Pencipta). Muthahhari,
Seorang filsuf muslim dunia yang menghasilkan banyak karya filosofis berharga–
pernah menyatakan bahwa manusia itu sejati dan senyatanya adalah sosok makhluk
spiritual.
Maka tak aneh kalau kemudian muncul istilah Spritual Quantient (SQ) yang membahas ‘siapa saya’. Istilah SQ menjadi populer melalui buku SQ: Spritual Quotient,The Ultimate Intelligence (London, 2000) karya Danah Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. SQ diklaim memiliki dasar dan bukti ilmiah. Pakar neurosains pada tahun 1990-an menemukan adanya “Titik Tuhan” atau God Spot di dalam otak. Titik Tuhan ini adalah sekumpulan jaringan saraf yang terletak di daerah lobus temporal otak, bagian yang terletak di balik pelipis. Dari eksperimen yang menggunakan sensor magnetis ditemukan adanya korelasi antara aktivitas berpikir tentang hal sakral seperti kedamaian, cinta, kesatuan, Tuhan dengan aktivitas magnet pada lobus temporal otak.
Maka tak aneh kalau kemudian muncul istilah Spritual Quantient (SQ) yang membahas ‘siapa saya’. Istilah SQ menjadi populer melalui buku SQ: Spritual Quotient,The Ultimate Intelligence (London, 2000) karya Danah Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. SQ diklaim memiliki dasar dan bukti ilmiah. Pakar neurosains pada tahun 1990-an menemukan adanya “Titik Tuhan” atau God Spot di dalam otak. Titik Tuhan ini adalah sekumpulan jaringan saraf yang terletak di daerah lobus temporal otak, bagian yang terletak di balik pelipis. Dari eksperimen yang menggunakan sensor magnetis ditemukan adanya korelasi antara aktivitas berpikir tentang hal sakral seperti kedamaian, cinta, kesatuan, Tuhan dengan aktivitas magnet pada lobus temporal otak.
2.
Mengapa Manusia Harus didakwahi
a.
Ditinjau dari hakikat manusia
Berdasarkan kajian terhadap hakikat
manusia, dapat dipahami secara filosofis alasan manusia harus didakwahi.
Manusia adalah makhluk yang mudah lupa (tempatnya salah dan lupa). Oleh karena
itu, dakwah merupakan hal yang begitu penting bagi manusia, khususnya bagi
mad’u sebagai media untuk mengingatkan dan meninjau atas hal-hal yang sering
dilupakan manusia (ajaran agama). Tidak hanya untuk mad’u, tetapi penting pula
bagi da’i sebagai bahan introsfeksi diri, mengingatkan kembali terhadap hal-hal
yang ia lupakan.
b.
Ditinjau dari teori kebutuhan manusia
Dilihat dari teori kebutuhan manusia
(kebutuhan spiritual), dapat dipahami pula bahwa manusia membutuhkan akan
ketenangan jiwa. Salah satu caranya adalah melalui jalan ibadah. Manusia tidak
akan mampu beribadah apabila tidak ada dakwah. Oleh karena itu, dakwah begitu
penting bagi manusia.
Ada dua aspek makna pentingnya dakwah
bagi manusia, yaitu:
1)
Memelihara dan mengembalikan martabat manusia
Dakwah adalah upaya para da’i agar manusia tetap menjadi
makhluk yang baik, bersedia mengimani dan mengamalkan ajaran dan nilai-nilai
Islam, sehingga hidupnya menjadi baik, hak-hak asasinya terlindungi, harmonis,
sejahtera, bahagia di dunia dan di akhirat terbebas dari siksaan dari api
neraka dan memperoleh kenikmatan surga yang dijanjikan. Ketinggian martabat
manusia itulah yang dikehendaki Allah SWT. Sehingga manusia dapat menjalakan
fungsinya sesuai dengan tujuan penciftaan-Nya, yaitu sebagau khalifah-Nya.
Bukannya makhluk yang selalu menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah
seperti yang dikhawatirkan oleh para malaikat.
Oleh sebab itu dakwah harus bertumpu
pada tauhid, menjadikan Allah sebagai titik tolak dan sekaligus tujuan hidup
manusia. Diatas keyakinan tauhid itulah manusia harus melakukan kewajiban
menghambakan diri (mengabdi) kepada Allah yang wujudnya secara vertikal
menyembah kepada Allah SWT., dan horizontal menjalankan sebuah risalah atau
misi yaitu menata kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT. Hal ini
karena dakwah adalah mengajak orang untuk hidup mengikuti ajaran Islam yang
bertumpu pada tauhid. Diatas fondasi tauhid itulah Islam dibangun untuk
dipedomani pemeluknya supaya hidupnya selalu baik dan tidak seperti binatang
ternak atau makhluk yang lebih rendah dari binatang. Dengan kata lain dakwah
berarti upaya untuk memelihara martabat kemanusiaannya, dan menjaga derajat kemanusiannya
tetap tinggi, tidak merosot serta tidak menjadi lebih rendah daripada
benda-benda, binatang-binatang, dan makhuk-makhluk lain.
2)
Membina akhlak dan memupuk semangat kemanusiaan
Tanpa adanya dakwah manusia akan kehilangan cinta kasih,
rasa keadilan, hati nurani, kepedulian sosial dan lingkungan, karena manusia
akan menjadi semakin egois, konsumeristis, dan hedonis. Manusia hanya akan
mementingkan dirinya sendiri tanpa mau memikirkan lingkungannya dan tidak
peduli terhadap kesulitan dan penderitaan masyarakat lain. Manusia juga akan
memanfaatkan apa saja untuk memuaskan hawa nafsunya. Dalam hal yang demikian
itu, korupsi, penumpukan kekayaan, pemuasan kehidupan seksual, penggunaan narkoba
menjadi hal yang biasa.
Dr. Syukriadi Sambas, M.Si dalam bukunya
memperinci kebutuhan manusia terhadap dakwah yaitu sebagai berikut:
a)
Manusia telah bersyahadat ketika di alam roh bahwa Allah
adalah Tuhan mereka. Syahadah ini disebut dengan perjanjian ketuhanan (‘ahd
Allah) dan fitrah Allah. Namun manusia menjadi lupa akan perjanjian itu setelah
ruh bersatu dengan jasad dalam proses kejadian manusia lahir di alam dunia.
Dakwah islam ini diperlukan untuk mengaktualkan syahadah ilahiyah dalam
kehidupan nyata.
Imam Syafi’i berkata: “Cahaya di dalamhati pluktuatif, kadang
bertambah dan kadang berkurang”. Karena itu, dakwah diperlukan untuk
mengantisifasi keadaan hati yang berkurang dan memposisikannya dalam keadaan
bertambah.
b)
Dakwah Islam menjadi dasar dan alasan bagi akal untuk
melaksanakan kewajiban beriman kepada Allah, sebab sebelum datangnya dakwah
yang dibawa Rasulullah manusia tidak akan mendapat azab. (pendapat ‘Asy’ariyah Bukhoro)
c)
Karakter agama Islam itu sendiri yang mengidentifikasikan
dirinya sebagai penyebar kasih sayang Tuhan bagi seluruh alam, dan wilayah
kerasulan Rasul terakhir berlaku untuk seluruh jagat raya. Dalam hal ini, Allah
berfirman: “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam. Katakanlah: "Sesungguhnya yang diwahyukan
kepadaku adalah: "Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa. Maka hendaklah
kamu berserah diri (kepada-Nya)".
Selanjutnya, dakwah itu harus
dilakukan karena alasan sebagai berikut:
i. Potensi baik dan buruk yang Allah
berikan
Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT berfirman:
Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT berfirman:
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. As-Syams: 8)
Dalam ayat di atas dapat difahami bahwa manusia itu
mempunyai potensi untuk berbuar baik dan buruk. Maka setiap orang memerlukan
nasihat dan pendidikan yang maksimal berupa dakwah untuk mengoptimalkan
kebaikan yang ada. Sehingga setiap manusia akan condong kepada kebaikannya, dan
keburukan akan terminimalisasi.
ii. Lingkungan keluarga sebagai
pendidikan pertama
Rasulullah saw pun bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, dan orang tuanyalah yang mengarahkannya menjadi Yahudi, Nashrani, atau Majusi” (HR. Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadits ini, lingkungan keluarga merupakan pendidikan awal bagi anak-anak dalam membentuk akhlak, moral, dan kepribadiannya. Pendidikan dalam hal ini bisa disebut dakwah.
Rasulullah saw pun bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, dan orang tuanyalah yang mengarahkannya menjadi Yahudi, Nashrani, atau Majusi” (HR. Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadits ini, lingkungan keluarga merupakan pendidikan awal bagi anak-anak dalam membentuk akhlak, moral, dan kepribadiannya. Pendidikan dalam hal ini bisa disebut dakwah.
C.
Akibat Ketika Manusia tidak
Didakwahi dan Tidak Melaksanakan Dakwah
Melihat
dan mengingat pentingnya dakwah bagi manusia berdasarkan hakikat manusia,
hakikat dakwah dan teori kebutuhan manusia, maka akibat yang akan diperoleh
manusia apabila manusia tidak didakwahi atau dakwah tidak dilaksanakan adalah
sebagai berikut:
1.
Karena manusia pada hakikatnya pelupa, maka manusia akan
tetap dalam kebodohan terhadap akhlak dan moralitas sebagaimana yang terjadi
pada zaman jahiliyyah.
2.
Manusia tidak akan dapat memenuhi kebutuhan spiritualnya,
yang memang sangat penting kebutuhan itu terpenuhi.
3.
Cahaya hati pada manusia selalu dalam keadaan berkurang
4.
Akal tidak akan dipandu oleh pengetahuan-pengetahuan agama
(syari’at Islam), sehingga perilakunya cenderung mengikuti akal dan hawa nafsu.
5.
Eksistensi Tuhan tidak akan dikenal oleh manusia,karena
melalui dakwah para utusan-Nya lah eksistensi Tuhan ada.
6.
Potensi baik pada manusia yang Allah anugrahkan tidak akan
termaksimalkan, malahan potensi keburukanlah yang akan lebih menguasai,
disebabkan oleh akal dan nafsu yang membimbingnya.
BAB III
PENETUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat
disimpulkan bahwa kebutuhan manusia terhadap agama (dakwah) pada umumnya kepada
Islam pada khususnya, bukanlah merupakan kebutuhan sekunder atau bahkan
sampingan, namun merupakan kebutuhan dasar atau primer yang berhubungan erat
dengan subtansi kehidupan, misteri dan wujud dan hati nurani manusia yang
paling dalam.
B.
Saran
Dalam
penulisan makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan dan kesalahan, baik
dari segi penulisan maupun dari segi penyusunan kalimatnya. Dari segi isi juga masih perlu ditambahkan. Oleh karena itu, kami sangat
mengharpkan kepada para pembaca makalah ini agar dapat memberikan kritikan dan
masukan yang bersifat membangun.


