MAKALAH
PSIKOLOGI
DAKWAH
Di Susun
O
L
E
H
RAMADHAN
NIM: 12.4.10.0412
INSTITUTE AGAMA
ISLAM NEGERI
(IAIN) PALU
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Psikologi
Dakwah”.
Shalawat
serta salam tak lupa kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw,
beseta keluarga, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman. Penulisan Makalah
ini merupakan karya tulis ilmiah karena disusun berdasarkan kaidah-kaidah
ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa
relevan dan terarah pada pokok permasalahan yang berkaitan dengan bidang
studi mahasiswa. Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas mata kuliah.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih
banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima
saran dan kritikan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Harapan
penulis semoga makalah ini dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan kepada
semua mahasiswa yang berada di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam IAIN PALU.
Palu, 22 September 2014
PENULIS
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sesungguhnya
dakwah adalah tugas yang amat mulia. Tugas warisan para Nabi dan Rasul. Allah
Swt. menegaskan bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik dari pada menyeru ke
jalan Allah Swt.
Allah berfirman :
“Siapakah
yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang berdakwah kepada Allah,
mengerjakan amal shalih dan berkata : sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”
(QS. Fushillat : 33).
Orientasi
dakwah para rasul adalah taqwa. Setiap rasul mengajak kaumnya agar bertaqwa.
Dakwah menuju ketaqwaan tentu saja akan mendapatkan sambutan, baik dari orang
orang yang menjaga kesucian fitrahnya dan yang menghormati akalnya. Tapi jangan
lupa, sebanyak-banyaknya
orang yang menyambut dakwah kepada ketaqwaan lebih banyak lagi yang
menentangnya. Orang-orang
yang menentang dakwah akan berusaha terus menerus untuk mengagalkannya dengan
segala macam cara, baik dengan cara yang halus maupun cara yang kasar. Baik
dengan bujukan, rayuan, iming-iming, dan segala macam kesenangan duniawi
lainnya, maupun dengan ancaman, tekanan, siksaan dan tindakan kekerasan
lainnya.
B.
Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan
psikologi dakwah?
2. Bagaimana aplikasi dakwah rasulullah
SAW?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Psikologi Dakwah
1.
Pengetian Psikologi
Psikologi
menurut bahasa berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi, psikologi
secara bahasa dapat diartikan sebagai ilmu jiwa. Namun pengertian ilmu jiwa itu
sendiri masih dianggap kabur dan belum jelas. Hal ini disebabkan karena para
sarjana belum mempunyai kesepakatan tentang jiwa itu sendiri. Menurut Sarlito,
tidak ada seorang pun yang tahu dengan sesungguhnya apa yang dimaksud dengan
jiwa itu sendiri, karena jiwa adalah kekuatan yang abstrak yang tidak tampak
oleh pancaindera wujud dan zatnya. Melainkan yang nampak hanya gejala-gejalanya
saja.
Sedangkan
menurut para ahli psikologi memiliki makna yang berbeda- beda diantanya menurut
para filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles mendefinisikan ilmu jiwa
(psyche) sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta
prosesnya. Hal ini karena filsafat selalu mengkaji tentang hakikat segala
sesuatu secara mendasar dan menyeluruh.
Pada zaman renaisans ( zaman revolusi ilmu pengetahuan di Eropa) Rene Descartes
(1596-1650) seorang filsuf Prancis mengatakan bahwa psikologi adalah ilmu
tentang kesadaran. Sedangkan menurut
George Berkeley (1685-1753) seorang filsuf Inggris mengemukakan bahwa psikologi
adalah ilmu tentang pengindraan (persepsi).
Beberapa
sarjana modern juga mencoba mengemukakan beberapa definisi psikologi seperti
Wilhelm Wundt mendefinisikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang
mempelajari atau menyelidiki pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti
pengalaman pancaindra, merasakan sesuatu, berfikir, berkehendak, dan bukan
mempelajari pengalaman yang di luar diri manusia, karena pengalaman demikian
menjadi objek kajian ilmu pengetahuan alam.
Jhon C. Ruch mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang aktivitas perilaku
dan mental.
Dan masih banyak lagi definisi-definisi tentang psikologi menurut para ahli.
2. Pengertian
Dakwah
Secara
bahasa dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu Da’a, Yad’u, Da’watan yang artinya menyeru memanggil mendorong dan
mengajak.
Secara
terminologi, para ulama masih berbeda pendapat mengenai definisi dakwah. Hal
ini disebabkan oleh perbedaan mereka dalam memaknai dan memandang kalimat
dakwah itu sendiri. Sebagian ulama seperti diungkapkan oleh Muhammad Abu al-Futuh
dalam kitabnya al-Madkhal ila ’Ilm ad-Da’wat mengatakan bahwa dakwah adalah
menyampaikan dan menerangkan apa yang telah dibawa oleh nabi Muhammad SAW.
Muhammad al-Khaydar Husayn dalam kitabnya ad-Da’wat ila al-Ishlah mengatakan
bahwa dakwah adalah mengajak kepada kebaikan dan petunjuk, serta menyuruh
kepada kebajikan dan melarang kepada kemungkaran agar mendapat kebahagiaan
dunia dan akhirat.
Ahmad Ghalwasy dalam kitabnya ad-Da’wat al-Islamiyyat mendefinisikan dakwah
sebagai pengetahuan yang dapat memberikan segenap usaha yang bemacam-macam,
yang mengacu kepada upaya penyampaian ajaran Islam kepada seluruh manusia yang
mencakup akidah, syariat dan akhlak.
Sedangkan menurut Abu Bakar Zakaria dalam kitabnya ad-Da’wat ila al-Islam
dakwah ialah kegiatan para ulama dengan mengajarkan menusia apa yang baik bagi
mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat menurut kemampuan mereka.
Dari
sekian definisi dakwah menurut para ulama diatas maka dapat diambil kesimpulan
bahwa dakwah ialah suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta
mempraktikkan ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang
dikemukakan oleh Muhammad Abu al-futuh bahwa dakwah ialah menyampaikan dan
mengajarkan ajaran Islam kepada seluruh manusia dan mempraktikkannya dalam
realitas kehidupan.
3. Pengertian
Psikologi Dakwah
Berdasarkan
definisi-definisi dakwah di atas, sesungguhnya esensi dakwah terletak pada
usaha pencegahan dari penyakit-penyakit masyarakat yang bersifat psikis dengan
cara mengajak, memotivasi, merangsang serta membimbing individu atau kelompok
agar sehat dan sejahtera jiwa dan raganya. Sehingga mereka dapat menerima
ajaran dengan penuh kesadaran dan dapat menjalankan ajaran agama sesuai dengan
tungtunan syariat Islam.
Ruang
lingkup dakwah dalam hal ini adalah bagaimana membentuk sikap mental atau
kejiwaan yang mengarah pada perubahan tingkah laku individu dan masyarakat
sebagai objek dakwah sesuai dengan ajaran agama yang diserukan oleh seorang
Da’i.
Dalam
upaya membentuk sikap mental dan perubahan tingkah laku mad’u, usaha-usaha
dakwah tidak terlepas dari studi psikologi yang notabene mempelajari tingkah
laku manusia sebagai cerminan dari hidup kejiwaannya. Karena itu, psikologi
dakwah dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
gejala-gejala hidup kejiwaan manusia yang terlibat dalam proses kegiatan
dakwah.
Hidup
kejiwaan manusia muncul dalam bentuk perilaku positif ataupun negatif. Perilaku
negatif manusia bisa jadi berupa cerminan jiwa manusia dalam bentuk perilaku
yang berlebihan, seperti yang berhubungan dengan kesenangan jasmani dan rohani.
Sebagai contoh, berhubungan dengan lawan jenis bagi seorang remaja pada masa
pertumbuhannya merupakan suatu kesenangan dan kenikmatan (kecenderungan).
Sebagian dari mereka cenderung menganggap aturan-aturan agama sebagai
penghalang. Dalam hal ini, bagaimana ajaran agama mampu dikomunikasikan kepada
remaja sehingga mereka tidak memandang ajaran agama tersebut sebagai penghalang
dan bagaimana mengkomunikasikan ajaran tersebut sesuai dengan kondisi
kejiwaannya. Inilah yang merupakan pokok pembahasan dalam psikologi dakwah.
Tujuan
psikologi dakwah adalah membantu dan memberikan pandangan kepada para Da’i
tentang pola dan tingkah laku para Mad’u dan hal-hal yang mempengaruhi tingkah
laku tersebut yang berkaitan dengan aspek kejiwaan (psikis) sehingga
mempermudah para Da’i untuk mengajak mereka kepada apa yang dikehendaki oleh
ajaran Islam.
B.
Aplikasi
Dakwah Rasulullah SAW
Metode
dakwah yang digunakan oleh Rasulullah adalah metode yang sesuai yang tertera di
dalam Alquran, dengan melalui pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga dalam
catatan sejarah dakwah Islam, Rasulullah merupakan tokoh utama dalam penyebaran
agama Islam di kalangan masyarakat Arab, selain dakwah yang juga dilaksanakan
oleh nabi sebelum Rasulullah kepada kaumnya.
Cara atau
metode yang disampaikan oleh Rasulullah agar tujuan dakwah dapat tercapai
adalah dengan mengambil langkah-langkah gemilang yang tercatat di dalam
sejarah, di antara langkah-langkah beliau dalam penyampaian dakwah adalah
dengan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
1.
Tahapan
dakwah secara rahasia selama tiga tahun;
2.
Tahapan
dakwah secara terbuka terhadap penduduk Mekkah, sejak tahun keempat kenabian
hingga akhir tahun kesepuluh kenabian;
3.
Tahapan
dakwah di luar Mekkah, berlangsung dari akhir tahun kesepuluh kenabian hingga
hijrah ke Madinah.
Dengan melalui metode yang tertera di dalam Alquran, Rasulullah menerapkan
beberapa pendekatan dalam aplikasi penggunaan metode tersebut, metode tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Pendekatan
Personal ( Sirri )
Pendekatan
ini dilakukan dengan cara face to face individual antara da’i dan mad’u
bertatap muka langsung sehingga reaksi yang timbul akan segera diketahui.
Pendekatan ini dilakukan Rasulullah pada fase dakwah sirriyah ( dakwah secara
rahasia ) meskipun demikian dakwah personal ini masih relevan diterapkan pada
saat ini bahkan hingga akhir masa. Hal ini disebabakan pendekatan personal
memiliki keterkaitan batin serta interaksi emosional antara da’i dan mad’u.
Pendekatan
personal merupakan pertama kali dilakukan Nabi setelah menerima wahyu kepada
orang orang terdekatnya. Hal ini dilakukan karena pada saat itu untuk
mengantisipasi pengikut Nabi masih sedikit serta resistensi kaum Quraisy yang
keras. Dakwah personal ini dilakukan Nabi selama tiga tahun, diantara yang
beriman pada saat itu adalah Khadijah binti Khuwalid, Ali bin Abi Thalib, Zaid
bin Harits, Abu Bakar as-Shidiq, Utsman bin Affan, Zubair al-Arqam dan lain
sebaginya.
Pendekatan
personal ini dilakukan Rasullullah pada masa awal ketika ketika dakwah belum
dimungkinkan dilaksanakan secara terbuka. Dakwah secara sembunyi-sembunyi
dilakukan Rasululullah bukan karena beliau takut melainkan merupakan strategi
jitu yang dilakukan oleh Rasul. Hal ini disebabkan Rasulullah selalu dibimbing
oleh wahyu termasuk untuk melaksanakan dakwah personal. Pendekatan dakwah ini
dilandasi juga ketika umat Islam pada saat itu belum kuat dan masih sedikit.
Melalui pendekatan ini da’i langsung membimbing ke mad’u sehingga keimanan
mad’u bertambah mantap. Permasalahan keagaman dapat langsung dipecahkan secara
seketika.
Dengan
pendekatan personal ini Nabi SAW telah menggabungkan antara ikhtiar dan
tawakal. Dari sini pula dapat dipetik hikmah bahwa dalam berdakwah harus
memperhatikan situasi dan kondisi, kapan dakwah dilaksanakan secara sembunyi
dan kapan dakwah dilaksanakan secara terbuka disinilah letak keluwesan dakwah.
Da’i dituntut harus panda’i membaca situasi serta memahami kondisi untuk menerapkan
dakwahnya.
b. Pendekatan
Pendidikan ( Taklim )
Dakwah melaui
pendekatan pendidikan telah dilakukan Nabi pada masa-masa awal berbarengan
dengan dakwah Sirri seperti dilakukan di rumah Abu al-Arqom. Pada saat Nabi di
Makkah pendidikan seperti di Bait al-Arqom belum diorganisir secara maksimal,
hal ini disebabkan belum berkembangnya pendidikan karena faktor keamanan.
Ketika Nabi hijrah ke Madinah barulah pendidikan berkembang dan diorganisir
secara sempurna. Adapun sistem pendidikan yang dikembangkan Nabi adalah sistem
kaderisasi dengan membina para sahabat. Kemudian para sahabat mengembangkannya
ke seluruh dunia. Mulai dari Khulafaurasyidin kemudian generasi berikutnya.
Dimulai dari pembinaan dan kaderisasi di Makkah yang agak terbatas kemudian ke
Madinah dengan membentuk komunitas muslim ditengah-tengah masyarakat Madinah
yang cukup heterogen. Tempat-tempat yang dijadikan sebagai tempat untuk
mendidik para sahabat baik di Makah maupun di Madinah yaitu : Dar-al-Arqom,
Rumah Nabi, al-Shuffah, Dar-al-Qurra, Kuttab, Masjid, dan Rumah para sahabat.
1) Dar
al-Arqam ( Rumah al-Arqam )
Pada
saat Nabi SAW melaksanakan dakwah sirriyah selama tiga tahun di Makkah,
terdapat tiga puluh pemeluk Islam.Hal ini menjadi landasan Nabi untuk
melaksanakan dakwah melalui pendidikan meskipun masih rahasia. Tempat yang
digunakan pertama kali ádalah rumah Abu Arqam. Ia sendiri sebenarnya bernama
al-Arqam bin Abu Manaf, karena abu Manaf dikenal dengan nama Abu al-Arqam, maka
al-Arqam kemudian lazim dipanggil al-Arqam bin al-Arqam. Letak rumah tersebut
antara kaki bukit Shafa dan tidak jauh dari Ka’bah. Mungkin hal ini yang
melandasi Nabi melakukan pendidikan di rumah tersebut disamping tentunya factor
keamanan.
Di
tempat tersebut Umar bin Khatab memeluk Islam pada tahun ke enam keRasulan.
KeIslaman Umar disambut gembira oleh Nabi dan para sahabat sehingga dijadikan
momentum untuk berdakwah secara terbuka. Masuk Islamnya Umar menambah kekuatan
kaum Muslimin karena pada saat Umar memeluk Islam diikuti pula sahabat lain
sehingga yang mengucapkan Syahadat pada saat itu kurang lebih empat puluh
orang. Patut dicatat pula pendekatan pendidikan di rumah al-Arqam memiliki
kemiripan dengan model pendidikan pesantren. Pesantren di Indonesia memiliki
tiga komponen yaitu ; pengajar, santri dan masjid. Di Dar al-Arqam ada Nabi
sebagai pendidik, ada sahabat sebagai santri dan masjid al-Haram tempat ibadah.
Hal ini dapat dikatakan Dar al-Arqam sebagai pesantren pertama dalam Islam
sehingga rumah Al-arqam disebut pula Dar al-Islam, membuktikan bahwa rumah
tersebut sebagai lembaga pendidikan Islam pada masanya.
2) Rumah
Nabi SAW
Masuknya
Umar bin Khatab menjadi muslim menjadikan titik tolak Nabi untuk berdakwah
secara terbuka sehingga pendidikan yang dilakukan di rumah al-Arqam pun
dipindahkan ke rumah Nabi. Ada dua pendapat mengenai rumah Nabi yang dijadikan
tempat pendidikan apakah rumah ketika Nabi dilahirkan atau ketika Nabi telah
menikah dengan Khadijah. Apabila rumah yang dimaksud pendapat pertama maka
rumah tersebut sampai sekarang masih ada, yaitu rumah di Syeib Amir Makkah yang
sekarang menjadi perpustakaan Mamlukah Su’udiyyah, namun apabila yang dimaksud
rumah Nabi pada pendapat kedua, saat ini tidak dapat dilacak keberadaanya.
3) al-Shuffah
Pada
saat Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah yang pertama kali beliau bangun ádalah
Masjid. Di dalam masjid –masjid yang beliau dirikan terdapat ruangan khusus
diperuntukan untuk pendidikan disamping juga untuk menampung sahabat yang tidak
mamapu. Ruangan tersebut dikenal dengan al-Shuffah. M.Azami menerangkan
al-Shuffah merupakan perguruan tinggi Islam pertama. Fakta ini merupakan
sesuatu hal yang tidak berlebihan karena Rasulullah SAW sendiri sebagai guru
besarnya. Dibandingkan pada saat di Makkah atau Dar al-Arqom, pendidikan di
al-Shuffah relatif terorganisir dengan baik karena di Madinah Nabi Muhammad
disamping mengemban misi profetik juga sebagai pimpinan politik.
Tenaga
pengajar al-Shuffah disamping Nabi SAW juga para sahabat senior. Begitu
pentingnya peran al-Shaffah karena meskipun gratis tapi melahirkan alumni yang
mumpuni dalam baca tulis al-Qur’an. Para sahabat yang mengajar diantaranya
Ubadah bin Shamit, Abdullah bin Said, Ubay bin Kaab. Jumlah mahasiswanya
tergantung situasi, menurut Ibnu Taymiyah 400 orang sedangkan Qatadah
menyebutkan 900 orang salah satu diantaranya Abu Hurairah.
4) Dar
al-Qurra
Selain
al-Shaffah di Madinah juga terdapat lembaga pendidikan yang bertempat di rumah
Makhramah bin Nufal. Dar al-Qurra bermakna rumah para pembaca al-Qur’an. Di
dalamnya diajarkan baca, tulis dan menghafal al-Qur’an. Al-Qur;an merupakan
sumber motivasi,inspirasi serta ilmu dari segala ilmu.
5) Kuttab
Di
Madinah juga terdapat lembaga pendidikan yang disebut Kuttab alumninya yaitu
Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit yang pada saat itu masih kanak-kanak.
Kutab berarti tempat belajar, biasanya kuttab tempat belajar bagi anak-anak.
Penamaan kuttab ini untuk membedakan dengan al-Shuffah yang dikhususkan bagi
orang dewasa sedangkan Kuttab bagi kanak-kanak semacam pendidikan bagi tingkat
dasar.
6) Masjid.
Masjid
pada awal Islam disamping untuk sholat juga digunakan untuk belajar. Pada masa
Rasulullah hidup di Madinah terdapat sembilan buah masjid.
7) Rumah
para sahabat.
Rumah
para sahabat dimanfaatkan juga untuk sarana belajar dan mengajar meskipun
secara temporer. Biasanya ketika Nabi kedatangan tamu dari luar Madinah. Para
tamu tersebut menginap di rumah sahabat, selagi menginap Rasullullah memberikan
pengajaran kepada para tamunya di rumah sahabat.
Metode pendidikan yang dilakukan Nabi terdapat sahabat setidaknya meliputi :
metode graduasi ( al-Tadarruj ), levelisasi ( Mura’at al-Mustawayat ), Variasi
( al-Tanwi’ wa al-Taghyir ), keteladanan ( al-Uswah wa al-Qudwah ) aplikatif (
al-Tatb iqi wa al-Amali ),mengulang-ulang ( al-Takrir wa al-Muraja’ah )
evaluasi ( al-Taqyim ),dialog ( al-Hiwar ),analogi ( al-Qiyas )dan metode
cerita atau kisah ( al-Qishshah. ).
Metode
graduasi merupakan metode penahapan yang merupakan metode al-Qur’an dalm
membina masyarakat baik untuk menghapuskan tradisi jahiliyah atau yang
lain.begitupun dalam menanamkan akidah al-Qur’an menggunakan metode graduasi
atau penahapan ( secara bertahap ). Metode levelisasi merupakan salah satu
metode yang mengklasifikasikan peserta didik ataupun mad’du sesuai dengan
kemampuan, serta daya nalar yang dimiliki. Mengajari orang badui berbeda dengan
mengajarkan kepada orang kota yang panda’i. Nabi SAW berbicara sesuai dengan
tingkat kecerdasan dan budaya obyeknya. Metode variasi dilakukan bukan hanya
mengajar saja tetapi juga mengenai waktu belajar.Metode keteladanan merupakan
metode yang pokok dilakukan Nabi SAW berkat keteladanan beliau ajaran Islam
diterima oleh setiap kalangan di seluruh dunia sebagai rahmatan lil alamain.
Metode aplikatif juga dilakukan Nabi dalam mengajarkan al-Qur’an terhadap para
sahabatnya. Untuk mementapkan ajaranya kepada sahabat Rasul selalu
mengulang-ulang menggunakan metode takrir wa muraja’ah. Kepada sahabat Nabi
selalu memantau dan mengevaluasi baik dalam hal ilmu maupun kehidupan.
Metode
selanjutnya adalah dialog. Dalam mengajarkan ilmu seringkali melakukan dialog
dengan sahabatnya. Banyak sekali ungkapan ungkapan Nabi dimulai dengan
perumpamaan atau qiyas disamping itu Rasulullah juga mengajar dengan
mengungkapakan kisah-kisah terutama yang termaktub dalam al-Qur’an.
c. Pendekatan
Penawaran ( ’Ardh )
Makkah
merupakan pusat ziarah sejak zaman Nabi Ibrahim hingga sekarang. Baik pada masa
pra Islam maupun sesudahnya. Salah satu pendekatan dakwah Nabi adalah
menawarkan agama Islam kepada kabilah-kabilah yang menziarahi Ka’bah. Meskipun
tidak ada seorangpun yang mengikuti dakwah Nabi akibat teror dari kafir
Quraisy. Nabi tetap menjalankan tugas dakwah itu setiapmusim haji dari tahun
keempat sampai tahun kesepuluh dari keNabian beliau. Baru pada tahun kesebelas
kabilah Khajraj dari Yatsrib menyatakan memeluk Islam berlanjut kepada baiat
Aqobah pertama dan kedua. Masuk Islamnya kabilah dari Yatsrib merupakan wasilah
hijrahnya Nabi ke Yatsrib atau kemudian lebih dikenal Madinah.
d. Pendekatan
Misi ( Bi’tsah )
Pendekatan
misi adalah pengiriman da’i ke daerah yang jauh dari tempat tinggal Nabi untuk
mengajarkan agama Islam. Pendekatan dakwah ini merupakan bagian dari pendekatan
pendidikan namun dalam hal ini axis mundis ( titik tekan ) nya pada
pendelegasian atau pengiriman para da’i oelh Nabi. Pendekatan misi yang dilakukan
Nabi diantaranya; Misi dakwah ke Yatsrib, Nejed, Khaibar, Yaman, Najran dan
Makkah.
Sesudah
baiat Aqobah pertama, orang Yatsrib meminta kepada Nabi untuk dikirim orang
yang mengajarakan Islam di Yatsrib. Nabi SAW mengutus Mush’ab bin Umair ke
Yatsrib. Peristiwa ini terjadi sebelum Nabi hijrah. Pada bulan safar 4 H Nabi
kedatangan tamu dari Nejed. Ia diajak Nabi masuk Islam tapi tidak mau hanya
meminta untuk dikirim da’i untuk mengajarkan Islam di Nejed. Nabi mengirimkan
70 orang sahabat ahli Qur’an ke Nejed dipimpin Mundzir nin Amr.
Misi
dakwah ke Khaibar yang dihuni orang Yahudi bersamaan dengan perang Khaibar yang
di awali oleh penghianatan orang Yahudi terhadap Nabi. Sahabat yang ditugasi
Nabi untuk mmengislamkan Khaibar dipimpin Ali bin Abi Thalib. Sahabat Nabi yang
ditugaskan berdakwah ke Yaman diantaranya Abu Musa al-Asyari, Muadz bin Jabal,
Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dan al-Barra bin Azib. Pada tahun 10 H
Khalid bin Walid ditugaskan Nabi ke Najran tepatnya kabilah Bani al-Harts. Semua
warga kabilah ini kemudian memeluk Islam dan Khalid bin Walid tinggal di Najran
untuk beberapa waktu untuk mengajarkan agama Islam. Sebelum Fathul Makkah 8 H.
Makkah dikuasai oleh orang kafir Quraisy. Ketika Nabi kembali ke Madinah
setetelah pembebasan Makkah, Nabi mengutus Muadz bin Jabal untuk mengajarkan
al-qur’an pada orang Makkah dan mengangkat Attab bin Usaid sebagai walikota
Makkah.
e. Pendekatan
korespondensi ( Mukatabah )
Pendekatan
korespondensi merupakan salah satu dakwah yang dilkukan Nabi SAW. Dakwah
melalui korespondensi ini dilakukan Nabi SAW pada tahun ke 7 hijriyah terhadap
bangsa – bangsa non Arab, sebelumnya selama 16 tahun Nabi SAW berdakwah hanya
kepada masyarakat arab tepatnya 10 tahun di Makkah dan 6 tahun di Madinah.
Fakta ini menunjukan bahwa Islam adalah agama universal. Melalui surat dakwah
islam disebarkan Nabi ke Eropa ( Romawi ), Persia, dan Afrika ( Abbesenia ).
Muhammad
bin Sa’ad ( W 230 H ) menulis kitab al-Tabaqat al-Kubra untuk menulis satu
persatu surat Nabi SAW lengkap dengan sanadnya. Surat-surat tersebut berjumlah
105 buah. Surat-surat Nabi SAW dikirimkan terhadap al-Najasyi ( raja Habsyah ).
Surat ini dibawa oleh Amr bin Umayyah al-Dhamri, ia adalah orang pertama yang
dipercaya Rasulullah menyampaikan surat kepada raja-raja dan kepala negara.
Surat dakwah Nabi juga dikirimkan terhadap kaisar Romawi Heraclius. Surat ini
dibawa oleh Dhiyah bin Khalifah al-Kalbi.
Surat Dakwah Rasul dikirimkan juga kepada Kisra atau Khoesroes gelar raja-raja
Persia. Yang mendapat surat Nabi adalah Aparwiz bin Hormuz bin Anursiwan. Surat
dakwah yang lain diberikan Rasul kepada al-Mauqauqis atau al-Muqauqas gelar
raja-raja Iskandariyah ( Mesir ). Raja yang menerima surat Nabi adalah Juraij
bin Mina, sedangkan yang menyampaikannya adalah Hatib bin Abu Balta’ah. Surat
dakwah juga dirimkan kepada raja Balqa ( wilayah Romawi Timur ) bernama
al-Harits al-Ghassani, Hauzah bin Ali al-Hanafi penguasa Yamamah ( tokoh
Musyrikin Arab ) suratnya dibawa oleh Salit bin Amr al-Amiri. Dari keenam surat
yang dikirim Nabi tak satupun penerima surat memeluk agama Islam kecuali
Najasyi yang masih kontroversi. Namun demikian bukan berarti dakwah tidak
berhasil karena pada perkembangan selanjutnya daerah daerah tersebut merupakan
pusat peradaban Islam. Seperti Iran dan Mesir.
Surat dakwah Nabi secara garis besar berisi :
1) Surat-surat
yang berisi seruan untuk masuk Islam.
2) Surat-surat
yang berisi aturan ajaran Islam seperti zakat dan sebagainya.
3) Surat-surat
yang berisi kewajiban bagi non muslim seperti jizyah.
Sebagai surat dakwah Rasulullah selalu mengawalinya dengan Basmallah. Disamping
itu surat dakwah juga merupakan surat resmi kepala negara karena setiap surat
dicap dengan stempel berbahan perak dengan tulisan Muhammad Rasul Allah. Dengan
demikin surat-surat yang dikirimkan Nabi Saw mengemban amanat profetik dan
politik.
f. Pendekatan
diskusi ( Mujadalah )
Pendekatan
mujadalah mengandung arti dialogis. Mujadalah bukanlah pembicaraan yang monolog
dan monoton. Di dalam al-Qur’an kata mujadalah diulang 29 kali. Diskusi atau mujadalah
juga merupakan pendekatan dakwah yang persuasif. Mengingat tidak setiap mad’u
begitu saja menerima ajakan dakwah tetapi perlu adu argumen untuk meyakinkan
kebenaran ajaran Islam. Dakwah pendekatan diskusi ini menuntut da’i untuk
profesional dan mampu mengaplikasikan ilmu logika serta menguasai pengetahuan
yang mendalam terutama topik yang didiskusikan. Mujadalah juga dimaksudkan agar
orang yang sebelumnya menantang ia akan menerima sekaligus mendukung penuh
pengertian. Pendekatan diskusi yang dilakukan Rasulullah merupakan implementasi
Q.S al-Nahl : 125.
Artinya :”serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( Q.S.
a-Nahl : 125 ).
Diskusi
atau mujadalah yang diperintahkan Allah SWT kepada kaum muslimin adalah jadal
yang baik. Jadal yang baik adalah jadal yang tidak mengandung unsur
penganiayaan karena adanya pemaksaan kehendak ( pendapat ) dan tidak ada
unsur-unsur yang merendahkan lawan dialog. Hal ini penting karena watak manusia
memiliki ego tersendiri. Seseorang tidak mudah melepaskan pendapatnya sendiri,
kecuali kritik terhadap pendapatnya dilakukan secara halus sehingga yang
bersangkutan tidak merasa pendapatnya dipinggirkan.
Dari
pendekatan pendekatan dakwah yang dilakukan Nabi SAW yang paling efektif adalah
pendekatan pendidikan ( ta’lim ) dan pendekatan misi ( bi’tsah ). Ketika
Rasulullah SAW wafat beliau meninggalkan setidaknya 114.000 orang sahabat.
Mereka secara umum pernah mendapat pendidikan dari Nabi SAW. Sementara
pendekatan misi dilakukan Nabi pertama kali mengutus Mush’ab bin Umair ke
Yatsrib sebelum Rasul hijrah pasca Baiat Aqobah. Selama setahun ia berhasil
mengislamkan 63 orang dengan kata lain 12 orang tiap bulan, suatu jumlah yang
signifikan pada saat itu. Pendekatan –pendekatan personal ( sirri ), penawaran
( ’ardh ), diskusi ( mujadalah ) dan korespondensi ( mukatabah ) tidak
ditemukan indikatornya yang yang signifikan.
Dengan memperhatikan beberapa hal yang telah diuraikan mengenai metode
dakwah Rasulullah, dapat dijadikan sebagai pelajaran kepada umat Islam dalam
pelaksanaan dakwah memerlukan beberapa faktor sebagai berikut:
1) Mengembangkan pola pikir dan wawasan keilmuan;
2) Pola pikir dan wawasan yang luas tersebut mempengaruhi kepribadian,
sehingga tidak mudah terlarut dengan sikap-sikap negatif;
3) Mampu menguraikan materi sesuai dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Psikologi
dakwah ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala-gejala hidup
kejiwaan manusia yang terlibat dalam proses kegiatan dakwah.
Metode dakwah yang digunakan oleh Rasulullah adalah metode yang sesuai yang
tertera di dalam Alquran, dengan melalui pendekatan-pendekatan tertentu
diantaranya: Pendekatan Personal (Sirri), Pendekatan Pendidikan
(Taklim), Pendekatan Penawaran (’Ardh), Pendekatan Misi (Bi’tsah), Pendekatan
korespondensi (Mukatabah), Pendekatan diskusi (Mujadalah).
B.
Saran
Demikian pembahasan dari makalah kami.Kami berharap semoga
pembahasan dalam makalah ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca.Dan
kami pun berharap pula kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan dalam
tugas kami selanjutnya. Sekian dan terima kasih.
DAFTAR
PUSTAKA
Faizah,Effendi
Lalu Muchsin, Psikologi Dakwah, (
Jakarta: Kencana, 2009).
Rafi’udin dan Maman Abd Djaliel, Prinsip dan
Strategi Dakwah, (Bandung: Pustaka Setia, 1997).
Wahyu Ilaihi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah
Dakwah, (Jakarta:
Kencana Premedia Group, 2007).
www. http//Metode dakwah
rasulullah.com
Wahyu Ilaihi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah
Dakwah, Jakarta: Kencana Premedia Group, 2007, h. 48-50.
Rafi’udin dan Maman Abd Djaliel, Prinsip dan
Strategi Dakwah, Bandung: Pustaka Setia, 1997, h. 79-80.