Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 14 November 2014

PENCEGAHAN TERORISME



DIALOG PUBLIK : PENCEGAHAN TERORISME


 








RAMADHAN
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerja sama dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu mengadakan Dialog Nasional pada jum’at (14/11) 2014. Kegiatan tersebut dilakasanakan di auditorium IAIN Palu. Tema yang diangakat dalam dialog tersebut ialah Pencegahan Terorisme di Kampus.
Adapun narasumber yang dihadirkan pada kegiatan tersebut ialah prof. Dr. Zainal abidin, MA., (Rektor IAIN Palu), syarifuddin suding (Anggota DPR RI), Bpk. Hery purwanto ( Deputi III KNPT), Dr. Lukman S. Taher, dan Prof. Irfan idris. Hadir juga dalam kegiatan tersebut Ust. Ali Fauzi Manza. Beliau adalah adik kandung dari Ali Imron dan Amrozi (terorisme yang di hukum mati di pulau Hambalan).
Antusias mahasiswa dalam mengikuti kegiatan tersebut punsangat luar biasa. Pada awalnya panitia hanya menargetkan peserta sebanyak 500 orang namun ternyata peserta yang membeludak. Peserta yang hadir mencapai 1000 lebih mahasiswa.
Rektor IAIN Palu dalam sambutannya mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Kerja sama ini sangat penting karena mengingat banyaknya aliran-aliran atau kelompok-kelompok satu agama, kelompok-kelompok yang mengatas namakan agama. Dan diharapkan dengan adanya kegiatan ini Indonesia khususnya Sulawsi Tengah menjadi semakin damai dan semakin sejahtera.
Heri purwanto pun dalam sambutannya mengatakan bahwa tidak mudah melakukan pencegahan terorisme. “Kami melakukan pencegahan sama seperti mereka melakukan penyebaran”, Ujar beliau. Ia juga mengatakan ada empat proses yang dilakukan dalam merubah mainset seseorang sehingga mau menjadi terorisme. Diantanya ialah merubah ideologinya, mempengaruhi perasaan dalam alam pikiran, konspirasi teologi dan menafsirkan ayat-ayat atau dogma-dogma secara sepenggal-penggal.
Syarifuddin suding pun selaku pejabat pemerintah sangat mendukung kegiatan tersebut. “Kegiatan ini dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang aliran-aliran radikalisme  yanga mengatas namakan agama”, ujar beliau. Tidak ketinggalan dalam kegiatan tersebut Ust. Ali Fauzi. Ia banyak bercerita tentang pengalamannya ketika menjadi anggota Jihad. Ia pernah dikirim ke Moro, Afganistan Pilipina, Thailand Timur dan lain sebagainya.
Adapun alasannya Ali Fauzi berubah ialah karena banyaknya korban yang tidak salah apa-apa dan korbannya pun kebanyakan umat Muslim. Peserta pun sangat tertarik mendengarkan pengalaman yang diceritakan oleh ust ali fauzi. Hal ini terlihat saat sesi tanya jawab dengan ust. Ali Fauzi.
Mahasiswa pun sangat mengharapkan kegiatan-kegiatan seperti dapat terus dilaksanakan. Mengingat bahwa Sulawesi Tengah pernah menjadi sarang terorisme. Mukti ali alah satu mahasiswa peserta dialog tersebut mengatakan sangat senang mengikuti kegiatan tersebut. “Kegiatan ini memberikan pemahaman kepada kita serta cara pencegahan agar kita tidak mudah ikut dalam aliran-aliran radikalisme bahkan terorisme”, ujar mahasiswa tersebut.
(Ramadhan)

Selasa, 11 November 2014

HARI CUCI TANGAN SEDUNIA



PERAYAAN HARI CUCI TANGAN  PAKAI SABUN SEDUNIA

PALU – PT. Unilever bekerja sama dengan Sekolah Dasar sekota Palu mengadakan Kegiatan Cuci Tangan Sedunia pada hari sabtu (08/11) 2014. Kegiatan yang pertama kali diadakan di Kota Palu tersebut diadakan di Millenium Waterpark Palu. Kegiatan tersebut dihadiri oleh wakil Walikota Palu dan juga Kepala Dinas Kota Palu. Kegiatan tersebut diikuti oleh 700 siswa/siswi dari 21 Sekolah Dasar seKota Palu.
Andi Mulhanan Tombolotutu (Wakil Walikota Palu) dalam sambutannya mengatakan sangat mendukung kegiatan tersebut. Dan diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilestarikan. “Hal ini sangat penting karena pendidikan dan kesehatan sangat berkaitan, sehingga hal ini perlu dilestarikan”, ujar beliau.
Andi Mulhanan dalam konfrensi persnya dengan para awak media mengatakan kegiatan ini sangat penting untuk membentuk kepribadian anak-anak. Karena sesuatu yang baik harus dimulai dari hal-hal yang kecil. Dan diharapkan kegiatan seperti ini di tahun-tahun yang akan datang dapat dilakukan di semua sekolah di Kota Palu.
Antusias para siswa sekolah dasar pun sangat luar biasa, hal ini dapat dilihat dari bersemangat para siswa/siswa mengikuti seluruh rangkaian acara dalam kegiatan tersebut. Muh. Febriasyah salah seorang siswa asal Sekolah Dasar 1 Inpres Silae mengatakan sangat senang mengikuti kegiatan cuci tangan tersebut. “Saya senang sekali ikut kegiatan ini karena bisa bermain bersama teman-teman”, ujarnya. (Ramadhan)

Minggu, 21 September 2014

PSIKOLOGI DAKWAH



MAKALAH

PSIKOLOGI DAKWAH






Di Susun
O
L
E
H
RAMADHAN
NIM: 12.4.10.0412




INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PALU
TAHUN AJARAN 2014/2015



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Psikologi Dakwah”.
Shalawat serta salam tak lupa kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, beseta keluarga, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman. Penulisan Makalah ini merupakan karya tulis ilmiah karena disusun berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa  relevan dan terarah pada pokok permasalahan yang berkaitan dengan bidang studi mahasiswa. Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima saran dan kritikan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan kepada semua mahasiswa yang berada di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam IAIN PALU.


Palu, 22 September 2014

PENULIS






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Sesungguhnya dakwah adalah tugas yang amat mulia. Tugas warisan para Nabi dan Rasul. Allah Swt. menegaskan bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik dari pada menyeru ke jalan Allah Swt.
Allah berfirman :
“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang berdakwah kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata : sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Fushillat : 33).
Orientasi dakwah para rasul adalah taqwa. Setiap rasul mengajak kaumnya agar bertaqwa. Dakwah menuju ketaqwaan tentu saja akan mendapatkan sambutan, baik dari orang orang yang menjaga kesucian fitrahnya dan yang menghormati akalnya. Tapi jangan lupa, sebanyak-banyaknya orang yang menyambut dakwah kepada ketaqwaan lebih banyak lagi yang menentangnya. Orang-orang yang menentang dakwah akan berusaha terus menerus untuk mengagalkannya dengan segala macam cara, baik dengan cara yang halus maupun cara yang kasar. Baik dengan bujukan, rayuan, iming-iming, dan segala macam kesenangan duniawi lainnya, maupun dengan ancaman, tekanan, siksaan dan tindakan kekerasan lainnya.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apakah yang dimaksud dengan psikologi dakwah?
2.      Bagaimana aplikasi dakwah rasulullah SAW?






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Psikologi Dakwah
1.      Pengetian Psikologi
Psikologi menurut bahasa berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi, psikologi secara bahasa dapat diartikan sebagai ilmu jiwa. Namun pengertian ilmu jiwa itu sendiri masih dianggap kabur dan belum jelas. Hal ini disebabkan karena para sarjana belum mempunyai kesepakatan tentang jiwa itu sendiri. Menurut Sarlito, tidak ada seorang pun yang tahu dengan sesungguhnya apa yang dimaksud dengan jiwa itu sendiri, karena jiwa adalah kekuatan yang abstrak yang tidak tampak oleh pancaindera wujud dan zatnya. Melainkan yang nampak hanya gejala-gejalanya saja.[1]
Sedangkan menurut para ahli psikologi memiliki makna yang berbeda- beda diantanya menurut para filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles mendefinisikan ilmu jiwa (psyche) sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya. Hal ini karena filsafat selalu mengkaji tentang hakikat segala sesuatu secara mendasar dan menyeluruh.[2] Pada zaman renaisans ( zaman revolusi ilmu pengetahuan di Eropa) Rene Descartes (1596-1650) seorang filsuf Prancis mengatakan bahwa psikologi adalah ilmu tentang  kesadaran. Sedangkan menurut George Berkeley (1685-1753) seorang filsuf Inggris mengemukakan bahwa psikologi adalah ilmu tentang pengindraan (persepsi).[3]
Beberapa sarjana modern juga mencoba mengemukakan beberapa definisi psikologi seperti Wilhelm Wundt mendefinisikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari atau menyelidiki pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti pengalaman pancaindra, merasakan sesuatu, berfikir, berkehendak, dan bukan mempelajari pengalaman yang di luar diri manusia, karena pengalaman demikian menjadi objek kajian ilmu pengetahuan alam.[4] Jhon C. Ruch mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang aktivitas perilaku dan mental.[5] Dan masih banyak lagi definisi-definisi tentang psikologi menurut para ahli.
2.      Pengertian Dakwah
Secara bahasa dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu Da’a, Yad’u, Da’watan yang artinya menyeru memanggil mendorong dan mengajak.
Secara terminologi, para ulama masih berbeda pendapat mengenai definisi dakwah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan mereka dalam memaknai dan memandang kalimat dakwah itu sendiri. Sebagian ulama seperti diungkapkan oleh Muhammad Abu al-Futuh dalam kitabnya al-Madkhal ila ’Ilm ad-Da’wat mengatakan bahwa dakwah adalah menyampaikan dan menerangkan apa yang telah dibawa oleh nabi Muhammad SAW.[6] Muhammad al-Khaydar Husayn dalam kitabnya ad-Da’wat ila al-Ishlah mengatakan bahwa dakwah adalah mengajak kepada kebaikan dan petunjuk, serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kepada kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.[7] Ahmad Ghalwasy dalam kitabnya ad-Da’wat al-Islamiyyat mendefinisikan dakwah sebagai pengetahuan yang dapat memberikan segenap usaha yang bemacam-macam, yang mengacu kepada upaya penyampaian ajaran Islam kepada seluruh manusia yang mencakup akidah, syariat dan akhlak.[8] Sedangkan menurut Abu Bakar Zakaria dalam kitabnya ad-Da’wat ila al-Islam dakwah ialah kegiatan para ulama dengan mengajarkan menusia apa yang baik bagi mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat menurut kemampuan mereka.[9]
Dari sekian definisi dakwah menurut para ulama diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa dakwah ialah suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta mempraktikkan ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Abu al-futuh bahwa dakwah ialah menyampaikan dan mengajarkan ajaran Islam kepada seluruh manusia dan mempraktikkannya dalam realitas kehidupan.[10]
3.      Pengertian Psikologi Dakwah
Berdasarkan definisi-definisi dakwah di atas, sesungguhnya esensi dakwah terletak pada usaha pencegahan dari penyakit-penyakit masyarakat yang bersifat psikis dengan cara mengajak, memotivasi, merangsang serta membimbing individu atau kelompok agar sehat dan sejahtera jiwa dan raganya. Sehingga mereka dapat menerima ajaran dengan penuh kesadaran dan dapat menjalankan ajaran agama sesuai dengan tungtunan syariat Islam.
Ruang lingkup dakwah dalam hal ini adalah bagaimana membentuk sikap mental atau kejiwaan yang mengarah pada perubahan tingkah laku individu dan masyarakat sebagai objek dakwah sesuai dengan ajaran agama yang diserukan oleh seorang Da’i.
Dalam upaya membentuk sikap mental dan perubahan tingkah laku mad’u, usaha-usaha dakwah tidak terlepas dari studi psikologi yang notabene mempelajari tingkah laku manusia sebagai cerminan dari hidup kejiwaannya. Karena itu, psikologi dakwah dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala-gejala hidup kejiwaan manusia yang terlibat dalam proses kegiatan dakwah.
Hidup kejiwaan manusia muncul dalam bentuk perilaku positif ataupun negatif. Perilaku negatif manusia bisa jadi berupa cerminan jiwa manusia dalam bentuk perilaku yang berlebihan, seperti yang berhubungan dengan kesenangan jasmani dan rohani. Sebagai contoh, berhubungan dengan lawan jenis bagi seorang remaja pada masa pertumbuhannya merupakan suatu kesenangan dan kenikmatan (kecenderungan). Sebagian dari mereka cenderung menganggap aturan-aturan agama sebagai penghalang. Dalam hal ini, bagaimana ajaran agama mampu dikomunikasikan kepada remaja sehingga mereka tidak memandang ajaran agama tersebut sebagai penghalang dan bagaimana mengkomunikasikan ajaran tersebut sesuai dengan kondisi kejiwaannya. Inilah yang merupakan pokok pembahasan dalam psikologi dakwah.
Tujuan psikologi dakwah adalah membantu dan memberikan pandangan kepada para Da’i tentang pola dan tingkah laku para Mad’u dan hal-hal yang mempengaruhi tingkah laku tersebut yang berkaitan dengan aspek kejiwaan (psikis) sehingga mempermudah para Da’i untuk mengajak mereka kepada apa yang dikehendaki oleh ajaran Islam.
B.     Aplikasi Dakwah Rasulullah SAW
Metode dakwah yang digunakan oleh Rasulullah adalah metode yang sesuai yang tertera di dalam Alquran, dengan melalui pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga dalam catatan sejarah dakwah Islam, Rasulullah merupakan tokoh utama dalam penyebaran agama Islam di kalangan masyarakat Arab, selain dakwah yang juga dilaksanakan oleh nabi sebelum Rasulullah kepada kaumnya.
Cara atau metode yang disampaikan oleh Rasulullah agar tujuan dakwah dapat tercapai adalah dengan mengambil langkah-langkah gemilang yang tercatat di dalam sejarah, di antara langkah-langkah beliau dalam penyampaian dakwah adalah dengan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:[11]
1.      Tahapan dakwah secara rahasia selama tiga tahun;
2.      Tahapan dakwah secara terbuka terhadap penduduk Mekkah, sejak tahun keempat kenabian hingga akhir tahun kesepuluh kenabian;
3.      Tahapan dakwah di luar Mekkah, berlangsung dari akhir tahun kesepuluh kenabian hingga hijrah ke Madinah.
Dengan melalui metode yang tertera di dalam Alquran, Rasulullah menerapkan beberapa pendekatan dalam aplikasi penggunaan metode tersebut, metode tersebut adalah sebagai berikut:[12]
a.       Pendekatan Personal ( Sirri )
Pendekatan ini dilakukan dengan cara face to face individual antara da’i dan mad’u bertatap muka langsung sehingga reaksi yang timbul akan segera diketahui. Pendekatan ini dilakukan Rasulullah pada fase dakwah sirriyah ( dakwah secara rahasia ) meskipun demikian dakwah personal ini masih relevan diterapkan pada saat ini bahkan hingga akhir masa. Hal ini disebabakan pendekatan personal memiliki keterkaitan batin serta interaksi emosional antara da’i dan mad’u.
Pendekatan personal merupakan pertama kali dilakukan Nabi setelah menerima wahyu kepada orang orang terdekatnya. Hal ini dilakukan karena pada saat itu untuk mengantisipasi pengikut Nabi masih sedikit serta resistensi kaum Quraisy yang keras. Dakwah personal ini dilakukan Nabi selama tiga tahun, diantara yang beriman pada saat itu adalah Khadijah binti Khuwalid, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harits, Abu Bakar as-Shidiq, Utsman bin Affan, Zubair al-Arqam dan lain sebaginya.
Pendekatan personal ini dilakukan Rasullullah pada masa awal ketika ketika dakwah belum dimungkinkan dilaksanakan secara terbuka. Dakwah secara sembunyi-sembunyi dilakukan Rasululullah bukan karena beliau takut melainkan merupakan strategi jitu yang dilakukan oleh Rasul. Hal ini disebabkan Rasulullah selalu dibimbing oleh wahyu termasuk untuk melaksanakan dakwah personal. Pendekatan dakwah ini dilandasi juga ketika umat Islam pada saat itu belum kuat dan masih sedikit. Melalui pendekatan ini da’i langsung membimbing ke mad’u sehingga keimanan mad’u bertambah mantap. Permasalahan keagaman dapat langsung dipecahkan secara seketika.
Dengan pendekatan personal ini Nabi SAW telah menggabungkan antara ikhtiar dan tawakal. Dari sini pula dapat dipetik hikmah bahwa dalam berdakwah harus memperhatikan situasi dan kondisi, kapan dakwah dilaksanakan secara sembunyi dan kapan dakwah dilaksanakan secara terbuka disinilah letak keluwesan dakwah. Da’i dituntut harus panda’i membaca situasi serta memahami kondisi untuk menerapkan dakwahnya.
b.      Pendekatan Pendidikan ( Taklim )
Dakwah melaui pendekatan pendidikan telah dilakukan Nabi pada masa-masa awal berbarengan dengan dakwah Sirri seperti dilakukan di rumah Abu al-Arqom. Pada saat Nabi di Makkah pendidikan seperti di Bait al-Arqom belum diorganisir secara maksimal, hal ini disebabkan belum berkembangnya pendidikan karena faktor keamanan. Ketika Nabi hijrah ke Madinah barulah pendidikan berkembang dan diorganisir secara sempurna. Adapun sistem pendidikan yang dikembangkan Nabi adalah sistem kaderisasi dengan membina para sahabat. Kemudian para sahabat mengembangkannya ke seluruh dunia. Mulai dari Khulafaurasyidin kemudian generasi berikutnya. Dimulai dari pembinaan dan kaderisasi di Makkah yang agak terbatas kemudian ke Madinah dengan membentuk komunitas muslim ditengah-tengah masyarakat Madinah yang cukup heterogen. Tempat-tempat yang dijadikan sebagai tempat untuk mendidik para sahabat baik di Makah maupun di Madinah yaitu : Dar-al-Arqom, Rumah Nabi, al-Shuffah, Dar-al-Qurra, Kuttab, Masjid, dan Rumah para sahabat.
1)      Dar al-Arqam ( Rumah al-Arqam )
Pada saat Nabi SAW melaksanakan dakwah sirriyah selama tiga tahun di Makkah, terdapat tiga puluh pemeluk Islam.Hal ini menjadi landasan Nabi untuk melaksanakan dakwah melalui pendidikan meskipun masih rahasia. Tempat yang digunakan pertama kali ádalah rumah Abu Arqam. Ia sendiri sebenarnya bernama al-Arqam bin Abu Manaf, karena abu Manaf dikenal dengan nama Abu al-Arqam, maka al-Arqam kemudian lazim dipanggil al-Arqam bin al-Arqam. Letak rumah tersebut antara kaki bukit Shafa dan tidak jauh dari Ka’bah. Mungkin hal ini yang melandasi Nabi melakukan pendidikan di rumah tersebut disamping tentunya factor keamanan.
Di tempat tersebut Umar bin Khatab memeluk Islam pada tahun ke enam keRasulan. KeIslaman Umar disambut gembira oleh Nabi dan para sahabat sehingga dijadikan momentum untuk berdakwah secara terbuka. Masuk Islamnya Umar menambah kekuatan kaum Muslimin karena pada saat Umar memeluk Islam diikuti pula sahabat lain sehingga yang mengucapkan Syahadat pada saat itu kurang lebih empat puluh orang. Patut dicatat pula pendekatan pendidikan di rumah al-Arqam memiliki kemiripan dengan model pendidikan pesantren. Pesantren di Indonesia memiliki tiga komponen yaitu ; pengajar, santri dan masjid. Di Dar al-Arqam ada Nabi sebagai pendidik, ada sahabat sebagai santri dan masjid al-Haram tempat ibadah. Hal ini dapat dikatakan Dar al-Arqam sebagai pesantren pertama dalam Islam sehingga rumah Al-arqam disebut pula Dar al-Islam, membuktikan bahwa rumah tersebut sebagai lembaga pendidikan Islam pada masanya.
2)      Rumah Nabi SAW
Masuknya Umar bin Khatab menjadi muslim menjadikan titik tolak Nabi untuk berdakwah secara terbuka sehingga pendidikan yang dilakukan di rumah al-Arqam pun dipindahkan ke rumah Nabi. Ada dua pendapat mengenai rumah Nabi yang dijadikan tempat pendidikan apakah rumah ketika Nabi dilahirkan atau ketika Nabi telah menikah dengan Khadijah. Apabila rumah yang dimaksud pendapat pertama maka rumah tersebut sampai sekarang masih ada, yaitu rumah di Syeib Amir Makkah yang sekarang menjadi perpustakaan Mamlukah Su’udiyyah, namun apabila yang dimaksud rumah Nabi pada pendapat kedua, saat ini tidak dapat dilacak keberadaanya.
3)      al-Shuffah
Pada saat Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah yang pertama kali beliau bangun ádalah Masjid. Di dalam masjid –masjid yang beliau dirikan terdapat ruangan khusus diperuntukan untuk pendidikan disamping juga untuk menampung sahabat yang tidak mamapu. Ruangan tersebut dikenal dengan al-Shuffah. M.Azami menerangkan al-Shuffah merupakan perguruan tinggi Islam pertama. Fakta ini merupakan sesuatu hal yang tidak berlebihan karena Rasulullah SAW sendiri sebagai guru besarnya. Dibandingkan pada saat di Makkah atau Dar al-Arqom, pendidikan di al-Shuffah relatif terorganisir dengan baik karena di Madinah Nabi Muhammad disamping mengemban misi profetik juga sebagai pimpinan politik.
Tenaga pengajar al-Shuffah disamping Nabi SAW juga para sahabat senior. Begitu pentingnya peran al-Shaffah karena meskipun gratis tapi melahirkan alumni yang mumpuni dalam baca tulis al-Qur’an. Para sahabat yang mengajar diantaranya Ubadah bin Shamit, Abdullah bin Said, Ubay bin Kaab. Jumlah mahasiswanya tergantung situasi, menurut Ibnu Taymiyah 400 orang sedangkan Qatadah menyebutkan 900 orang salah satu diantaranya Abu Hurairah.
4)      Dar al-Qurra
Selain al-Shaffah di Madinah juga terdapat lembaga pendidikan yang bertempat di rumah Makhramah bin Nufal. Dar al-Qurra bermakna rumah para pembaca al-Qur’an. Di dalamnya diajarkan baca, tulis dan menghafal al-Qur’an. Al-Qur;an merupakan sumber motivasi,inspirasi serta ilmu dari segala ilmu.
5)      Kuttab
Di Madinah juga terdapat lembaga pendidikan yang disebut Kuttab alumninya yaitu Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit yang pada saat itu masih kanak-kanak. Kutab berarti tempat belajar, biasanya kuttab tempat belajar bagi anak-anak. Penamaan kuttab ini untuk membedakan dengan al-Shuffah yang dikhususkan bagi orang dewasa sedangkan Kuttab bagi kanak-kanak semacam pendidikan bagi tingkat dasar.
6)      Masjid.
Masjid pada awal Islam disamping untuk sholat juga digunakan untuk belajar. Pada masa Rasulullah hidup di Madinah terdapat sembilan buah masjid.
7)      Rumah para sahabat.
Rumah para sahabat dimanfaatkan juga untuk sarana belajar dan mengajar meskipun secara temporer. Biasanya ketika Nabi kedatangan tamu dari luar Madinah. Para tamu tersebut menginap di rumah sahabat, selagi menginap Rasullullah memberikan pengajaran kepada para tamunya di rumah sahabat.
Metode pendidikan yang dilakukan Nabi terdapat sahabat setidaknya meliputi : metode graduasi ( al-Tadarruj ), levelisasi ( Mura’at al-Mustawayat ), Variasi ( al-Tanwi’ wa al-Taghyir ), keteladanan ( al-Uswah wa al-Qudwah ) aplikatif ( al-Tatb iqi wa al-Amali ),mengulang-ulang ( al-Takrir wa al-Muraja’ah ) evaluasi ( al-Taqyim ),dialog ( al-Hiwar ),analogi ( al-Qiyas )dan metode cerita atau kisah ( al-Qishshah. ).
Metode graduasi merupakan metode penahapan yang merupakan metode al-Qur’an dalm membina masyarakat baik untuk menghapuskan tradisi jahiliyah atau yang lain.begitupun dalam menanamkan akidah al-Qur’an menggunakan metode graduasi atau penahapan ( secara bertahap ). Metode levelisasi merupakan salah satu metode yang mengklasifikasikan peserta didik ataupun mad’du sesuai dengan kemampuan, serta daya nalar yang dimiliki. Mengajari orang badui berbeda dengan mengajarkan kepada orang kota yang panda’i. Nabi SAW berbicara sesuai dengan tingkat kecerdasan dan budaya obyeknya. Metode variasi dilakukan bukan hanya mengajar saja tetapi juga mengenai waktu belajar.Metode keteladanan merupakan metode yang pokok dilakukan Nabi SAW berkat keteladanan beliau ajaran Islam diterima oleh setiap kalangan di seluruh dunia sebagai rahmatan lil alamain. Metode aplikatif juga dilakukan Nabi dalam mengajarkan al-Qur’an terhadap para sahabatnya. Untuk mementapkan ajaranya kepada sahabat Rasul selalu mengulang-ulang menggunakan metode takrir wa muraja’ah. Kepada sahabat Nabi selalu memantau dan mengevaluasi baik dalam hal ilmu maupun kehidupan.
Metode selanjutnya adalah dialog. Dalam mengajarkan ilmu seringkali melakukan dialog dengan sahabatnya. Banyak sekali ungkapan ungkapan Nabi dimulai dengan perumpamaan atau qiyas disamping itu Rasulullah juga mengajar dengan mengungkapakan kisah-kisah terutama yang termaktub dalam al-Qur’an.
c.       Pendekatan Penawaran ( ’Ardh )
Makkah merupakan pusat ziarah sejak zaman Nabi Ibrahim hingga sekarang. Baik pada masa pra Islam maupun sesudahnya. Salah satu pendekatan dakwah Nabi adalah menawarkan agama Islam kepada kabilah-kabilah yang menziarahi Ka’bah. Meskipun tidak ada seorangpun yang mengikuti dakwah Nabi akibat teror dari kafir Quraisy. Nabi tetap menjalankan tugas dakwah itu setiapmusim haji dari tahun keempat sampai tahun kesepuluh dari keNabian beliau. Baru pada tahun kesebelas kabilah Khajraj dari Yatsrib menyatakan memeluk Islam berlanjut kepada baiat Aqobah pertama dan kedua. Masuk Islamnya kabilah dari Yatsrib merupakan wasilah hijrahnya Nabi ke Yatsrib atau kemudian lebih dikenal Madinah.
d.      Pendekatan Misi ( Bi’tsah )
Pendekatan misi adalah pengiriman da’i ke daerah yang jauh dari tempat tinggal Nabi untuk mengajarkan agama Islam. Pendekatan dakwah ini merupakan bagian dari pendekatan pendidikan namun dalam hal ini axis mundis ( titik tekan ) nya pada pendelegasian atau pengiriman para da’i oelh Nabi. Pendekatan misi yang dilakukan Nabi diantaranya; Misi dakwah ke Yatsrib, Nejed, Khaibar, Yaman, Najran dan Makkah.
Sesudah baiat Aqobah pertama, orang Yatsrib meminta kepada Nabi untuk dikirim orang yang mengajarakan Islam di Yatsrib. Nabi SAW mengutus Mush’ab bin Umair ke Yatsrib. Peristiwa ini terjadi sebelum Nabi hijrah. Pada bulan safar 4 H Nabi kedatangan tamu dari Nejed. Ia diajak Nabi masuk Islam tapi tidak mau hanya meminta untuk dikirim da’i untuk mengajarkan Islam di Nejed. Nabi mengirimkan 70 orang sahabat ahli Qur’an ke Nejed dipimpin Mundzir nin Amr.
Misi dakwah ke Khaibar yang dihuni orang Yahudi bersamaan dengan perang Khaibar yang di awali oleh penghianatan orang Yahudi terhadap Nabi. Sahabat yang ditugasi Nabi untuk mmengislamkan Khaibar dipimpin Ali bin Abi Thalib. Sahabat Nabi yang ditugaskan berdakwah ke Yaman diantaranya Abu Musa al-Asyari, Muadz bin Jabal, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dan al-Barra bin Azib. Pada tahun 10 H Khalid bin Walid ditugaskan Nabi ke Najran tepatnya kabilah Bani al-Harts. Semua warga kabilah ini kemudian memeluk Islam dan Khalid bin Walid tinggal di Najran untuk beberapa waktu untuk mengajarkan agama Islam. Sebelum Fathul Makkah 8 H. Makkah dikuasai oleh orang kafir Quraisy. Ketika Nabi kembali ke Madinah setetelah pembebasan Makkah, Nabi mengutus Muadz bin Jabal untuk mengajarkan al-qur’an pada orang Makkah dan mengangkat Attab bin Usaid sebagai walikota Makkah.
e.       Pendekatan korespondensi ( Mukatabah )
Pendekatan korespondensi merupakan salah satu dakwah yang dilkukan Nabi SAW. Dakwah melalui korespondensi ini dilakukan Nabi SAW pada tahun ke 7 hijriyah terhadap bangsa – bangsa non Arab, sebelumnya selama 16 tahun Nabi SAW berdakwah hanya kepada masyarakat arab tepatnya 10 tahun di Makkah dan 6 tahun di Madinah. Fakta ini menunjukan bahwa Islam adalah agama universal. Melalui surat dakwah islam disebarkan Nabi ke Eropa ( Romawi ), Persia, dan Afrika ( Abbesenia ).
Muhammad bin Sa’ad ( W 230 H ) menulis kitab al-Tabaqat al-Kubra untuk menulis satu persatu surat Nabi SAW lengkap dengan sanadnya. Surat-surat tersebut berjumlah 105 buah. Surat-surat Nabi SAW dikirimkan terhadap al-Najasyi ( raja Habsyah ). Surat ini dibawa oleh Amr bin Umayyah al-Dhamri, ia adalah orang pertama yang dipercaya Rasulullah menyampaikan surat kepada raja-raja dan kepala negara. Surat dakwah Nabi juga dikirimkan terhadap kaisar Romawi Heraclius. Surat ini dibawa oleh Dhiyah bin Khalifah al-Kalbi.
Surat Dakwah Rasul dikirimkan juga kepada Kisra atau Khoesroes gelar raja-raja Persia. Yang mendapat surat Nabi adalah Aparwiz bin Hormuz bin Anursiwan. Surat dakwah yang lain diberikan Rasul kepada al-Mauqauqis atau al-Muqauqas gelar raja-raja Iskandariyah ( Mesir ). Raja yang menerima surat Nabi adalah Juraij bin Mina, sedangkan yang menyampaikannya adalah Hatib bin Abu Balta’ah. Surat dakwah juga dirimkan kepada raja Balqa ( wilayah Romawi Timur ) bernama al-Harits al-Ghassani, Hauzah bin Ali al-Hanafi penguasa Yamamah ( tokoh Musyrikin Arab ) suratnya dibawa oleh Salit bin Amr al-Amiri. Dari keenam surat yang dikirim Nabi tak satupun penerima surat memeluk agama Islam kecuali Najasyi yang masih kontroversi. Namun demikian bukan berarti dakwah tidak berhasil karena pada perkembangan selanjutnya daerah daerah tersebut merupakan pusat peradaban Islam. Seperti Iran dan Mesir.
Surat dakwah Nabi secara garis besar berisi :
1)      Surat-surat yang berisi seruan untuk masuk Islam.
2)      Surat-surat yang berisi aturan ajaran Islam seperti zakat dan sebagainya.
3)      Surat-surat yang berisi kewajiban bagi non muslim seperti jizyah.
Sebagai surat dakwah Rasulullah selalu mengawalinya dengan Basmallah. Disamping itu surat dakwah juga merupakan surat resmi kepala negara karena setiap surat dicap dengan stempel berbahan perak dengan tulisan Muhammad Rasul Allah. Dengan demikin surat-surat yang dikirimkan Nabi Saw mengemban amanat profetik dan politik.
f.       Pendekatan diskusi ( Mujadalah )
Pendekatan mujadalah mengandung arti dialogis. Mujadalah bukanlah pembicaraan yang monolog dan monoton. Di dalam al-Qur’an kata mujadalah diulang 29 kali. Diskusi atau mujadalah juga merupakan pendekatan dakwah yang persuasif. Mengingat tidak setiap mad’u begitu saja menerima ajakan dakwah tetapi perlu adu argumen untuk meyakinkan kebenaran ajaran Islam. Dakwah pendekatan diskusi ini menuntut da’i untuk profesional dan mampu mengaplikasikan ilmu logika serta menguasai pengetahuan yang mendalam terutama topik yang didiskusikan. Mujadalah juga dimaksudkan agar orang yang sebelumnya menantang ia akan menerima sekaligus mendukung penuh pengertian. Pendekatan diskusi yang dilakukan Rasulullah merupakan implementasi Q.S al-Nahl : 125.
Artinya :”serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( Q.S. a-Nahl : 125 ).
Diskusi atau mujadalah yang diperintahkan Allah SWT kepada kaum muslimin adalah jadal yang baik. Jadal yang baik adalah jadal yang tidak mengandung unsur penganiayaan karena adanya pemaksaan kehendak ( pendapat ) dan tidak ada unsur-unsur yang merendahkan lawan dialog. Hal ini penting karena watak manusia memiliki ego tersendiri. Seseorang tidak mudah melepaskan pendapatnya sendiri, kecuali kritik terhadap pendapatnya dilakukan secara halus sehingga yang bersangkutan tidak merasa pendapatnya dipinggirkan.
Dari pendekatan pendekatan dakwah yang dilakukan Nabi SAW yang paling efektif adalah pendekatan pendidikan ( ta’lim ) dan pendekatan misi ( bi’tsah ). Ketika Rasulullah SAW wafat beliau meninggalkan setidaknya 114.000 orang sahabat. Mereka secara umum pernah mendapat pendidikan dari Nabi SAW. Sementara pendekatan misi dilakukan Nabi pertama kali mengutus Mush’ab bin Umair ke Yatsrib sebelum Rasul hijrah pasca Baiat Aqobah. Selama setahun ia berhasil mengislamkan 63 orang dengan kata lain 12 orang tiap bulan, suatu jumlah yang signifikan pada saat itu. Pendekatan –pendekatan personal ( sirri ), penawaran ( ’ardh ), diskusi ( mujadalah ) dan korespondensi ( mukatabah ) tidak ditemukan indikatornya yang yang signifikan.
Dengan memperhatikan beberapa hal yang telah diuraikan mengenai metode dakwah Rasulullah, dapat dijadikan sebagai pelajaran kepada umat Islam dalam pelaksanaan dakwah memerlukan beberapa faktor sebagai berikut:[13]
1)      Mengembangkan pola pikir dan wawasan keilmuan;
2)      Pola pikir dan wawasan yang luas tersebut mempengaruhi kepribadian, sehingga tidak mudah terlarut dengan sikap-sikap negatif;
3)      Mampu menguraikan materi sesuai dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Psikologi dakwah ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala-gejala hidup kejiwaan manusia yang terlibat dalam proses kegiatan dakwah.
Metode dakwah yang digunakan oleh Rasulullah adalah metode yang sesuai yang tertera di dalam Alquran, dengan melalui pendekatan-pendekatan tertentu diantaranya: Pendekatan Personal (Sirri), Pendekatan Pendidikan (Taklim), Pendekatan Penawaran (’Ardh), Pendekatan Misi (Bi’tsah), Pendekatan korespondensi (Mukatabah), Pendekatan diskusi (Mujadalah).

B.     Saran
Demikian pembahasan dari makalah kami.Kami berharap semoga pembahasan dalam makalah ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca.Dan kami pun berharap pula kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan dalam tugas kami selanjutnya. Sekian dan terima kasih.


DAFTAR PUSTAKA

Faizah,Effendi Lalu Muchsin, Psikologi Dakwah, ( Jakarta: Kencana, 2009).
Rafi’udin dan Maman Abd Djaliel, Prinsip dan Strategi Dakwah, (Bandung: Pustaka Setia, 1997).
Wahyu Ilaihi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, (Jakarta: Kencana Premedia Group, 2007).
Sarlito, Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2000).
www. http//Metode dakwah rasulullah.com


[1] Sarlito Wirawan Sarwono, Berkenalan Dengan Aliran-Aliran Dan Tokoh-Tokoh Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978) Hlm. 1-2.
[2] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu,(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1993) Hlm. 19.
[3] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2000), Hlm. 3.
[4] H. M. Arifin, Psikologi dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniah Manusia, hlm.19.
[5] Jhon C. Ruch, Psychology, The Personal Science , (California: Wodworth Publishing Company, 1984), hlm. 4.
[6] Muhammad Abu Futuh al-Bayanuni, al-Madkhal ila ‘Ilm ad-Da’wat (Beirut: Muassasat al-Risalat, 1991), hlm. 14.
[7] Muhammad al-Khaydar Husayn, ad-Da’wat ila al-Ishlah (Kairo: Maktabat al-Azhar, tt.), hlm. 14.
[8] Syekh Ahmad Ghalwasy, ad-Da’wat al-Islamiyyat (Kairo: Dar al-Kutub al-Ilmiyyat, tt.) hlm. 10.
[9] Abu Bakar Zakaria, ad-Da’wat ila al-Islam (Kairo: Maktabah Dar al-Urubat, 1962), hlm. 8.
[10] Muhammad Abu Futuh al-Bayanuni, al-Madkhal ila ‘Ilm ad-Da’wat, hlm. 17.
[11] Wahyu Ilaihi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: Kencana Premedia Group, 2007, h. 48-50.

[12] Tim Penyusun Rahmat Semesta, Metode Dakwah..., h. 22-23.
[13] Rafi’udin dan Maman Abd Djaliel, Prinsip dan Strategi Dakwah, Bandung: Pustaka Setia, 1997, h. 79-80.

 
Blogger Templates